oleh

Merbabu dalam Kamera – Merbabu in Camera #AgungTravelBlog

Untuk mengenang bagaimana asiknya mengambil lanskap Merbabu yang luar biasa indah, saya dedikasikan foto ini agar dinikmati oleh para pendaki yang budiman..
Merbabu in Camera..
Gear : Nikon D3100
Lens : Nikkor 18 – 105 mm + Lens Hood
Mode : Manual

“Si Kembar Sindoro Sumbing” – Terlihat dari kejauhan dua sosok gunung yang saling berdekatan, cukup cerah kondisi puncaknya saat itu.

“Lereng Gunung Merbabu” dengan barisa sabana hijau kekuningan,
Beruntung saat itu Cuaca luar biasa cerah, terbuka dan biru.
Sindoro Sumbing adalah dua gunung aktif yang bisa terlihat dari tanjakan menuju pos pemancar, kondisi yang cerah menyajikan baris langit yang biru dan pesona kedua gunung ini. 
Cukup takjub dan ajaib saya saat itu, terlihat puncak Sumbing Cerah tanpa awan, tetapi Sindoro Tampak ada barisan awan disisi sebelah kiri dari posisi kita melihat.
“Sang Abadi” bunga edelweiss bisa ditemukan di sepanjang perjalan menuju
Pos Pemancar, Kelihatanya sedikit lagi bunganya akan mekar sempurna.
kalau diperhatikan dibelakang Edelweis ada Sindoro Sumbing yang ngumpet
Tanaman Khas dataran tinggi ini cukup subur tumbuh disini, cukup banyak hidup dan kondisi baik, tidak seperti di Ceremai yang sudah memprihatinkan.
Tanaman ini abadi karena proses pembusukanya cukup lama, bahkan sangat lama sampai terurau sempurna, oleh karena Edelweis disebut bunga abadi.
“Tanah Tertinggi Merbabu” barisan jalan menuju puncak sejati Merbabu sangat indah disajikan, Awan – awan yang berbaris di sepanjang jalan, dan hamparan indah sabana khas Merbabu. Pemandangan ini diambil dari Puncak Syarif, dari posisi ini kami bisa melihat dengan jelas posisi Puncak Kentheng Songo dan Triangulasi
“Legendary Shoes” Sepatu yang senantiasa menemani setiap perjalanan
Sebuah apresiasi untuk jasa – jasanya

Pemandangan Seperti ini bisa kalian dapatkan di Merbabu, track tinggi berpasir melewati Sabana Sabana yang tak kunjung habis dilihat. Beruntung tim tidak bertemu cuaca hujan pada saat melakukan pendakian karena dijamin pasti track akan sangat licin berlumpur.
Dampak lainya, sepatu kalian akan berdebu seperti ini.
“Merapi yang Megah” doa kami diijabah, karena setelah menunggu sejenak
Barisan awan yang menutupi merapi berangsur menghilang dan menjadikan
Saat itu adalah pemandangan merapi yang sangat indah. 

Lembayung kuning saat senja memberikan efek magis kepada pemandangan tim sore itu, luar biasa cantik pemandangan Merapi sore itu. Puncak berbatu terlihat mempesona dengan lereng-lereng merapi yang hijau. Gunung Paling terkenal di Indonesia ini, adalah termasuk dalam jajaran gunung api paling aktif di dunia.
“Way to Home” jalan menyusuri rumput-rumput itu adalah jalan kami menuju rumah kami tercinta, terlihat sangat jauh dan
memang kenyataanya sangat jauh ada banyak punggungan lereng merbabu yang harus kita lewati sampai di Basecamp Selo
Berita Terkait!:   Tentang Puncak Gunung Ceremai

“Little Hills” perjalanan turun yang menggetarkan sebenarnya, karena kami harus melewati bukit bukit yan indah itu, di temani Edelweis yang tumbuh di sekitarnya. barisan awan yang tepat di atas desa Selo adalah tujuan kami, enggan sebenernya untuk lekas turun tapi gelap sudah mulai menutupi jarak pandang kami mau tidak mau kita harus turun


“Edelweiss” Bunga abadi yang hidup di Merbabu Cukup Sehat
populasinya pun cenderung terjaga, jarang saya melihat Tanaman
ini mati mengering karena di rusak.

Membicarakan Flora yang ada di Merbabu, hampir sama dengan tipikal flora yang ada di gunung di Jawa Tengah. tidak terlalu berbeda, yang membedakan hanya kondisi Flora di Gunung Merbabu cukup terjaga, Pohon – Pohon Besar hanya ada di Track awal, jika sudah sampai punggungan lereng gunung maka kalian akan sulit menemukan tempat berteduh.
“Catigi” Salah satu maskot tanaman dataran tinggi
kalian bisa dengan mudah menemukan tanaman ini di Merbabu
  
Menjaga mereka untuk tetap lestari adalah tugas kita sebagai pecinta alam ini, supaya mereka bisa tetap hidup sampai dunia ini berakhir. Kedisplinan agak tidak menebang pohon sembarangan kecuali sangat diperlukan adalah salah satu cara agar ekosistem disini tetap indah dan tidak rusak. 
“Shape” melewati lereng sempit dengan satu pijakan membuat
kewaspadaan tim lebih tinggi, tapi memang inilah satu satunya
jalan menuju Puncak yang kami tuju saat itu,

“Jangan lihat ke atas” sekali-kalinya kita melihat ke atas maka daya kita senantiasa habis, semangat semakin menurun dengan melihat track yang luar biasa tinggi dan panjang
lebih baik mendaki dengan menunduk, dan sambil bercanda dengan teman karena memang inilah ujianya.
Berita Terkait!:   Gunung Geurutee Aceh


Tanjakan Menuju Pertigaan, Kiri Puncak Syarif Kanan Puncak Kentheng Songo
dan Puncak Triangulasi. lebih baik mendaki dengan kepala tertunduk


Langit yang bersih luar biasa biru tersaji dengan tanjakan yang sangat tinggi dan jauh, semakin melihat ke atas maka daya akan semakin lemah. Tips dari saya, jangan terlalu memikirkan tanjakan yang tingi seperti itu, fokuslah pada setiap langkah yang telah kalian capai, syukuri dan nikmati perjalan bersama sahabat dan jangan terlalu sering melihat ke atas lihat ke bawah agar pendakian tidak terlalu terasa
Bentuk Fisik Kentheng Songo yang Triangulasi, terlihat masih sangat jauh tapi pemandanganya luar biasa. Jika kalian
beruntung kalian bisa melihat Elang Jawa yang mengitari punggungan Gunung Merbabu.

“Sejajar” lihat sebuah gundukan tanah di belakang kepala teman
saya yang sedang mengamati barisan awan? itu adalah puncak Syarif

Hodie atau penutup kepala adalah perlengkapan yang cukup wajib dibawa pada saat mendaki merbabu, karena matahari yang sangat dekat dengan kita sangat terasa hingga ke kulit, penghalau panas topi, kupluk dan sejenisnya adalah salah satu asesoris wajib pada saat mendaki Merbabu.

“My Treasure” Sedikit meregangkan kaki di atas rumput-rumput
itu sedikit mengobati rasa lelah, Tapi melihat track yang masih
menanti membuat sedikit lemes …
“but we still believe that we can touch that Peak!”
Puncak terlihat tapi semakin di lihat semakin tak berdaya.. nikmati saja perjalanan ini, entah kapan akan terulang maka nikmati tiap peluh yang ada. Kami percaya bahwa salah satu motivasi kami adalah mencicipi Puncak itu dengan sekuat tenaga kami dan rasa penasaran yang kami bawa sedari Jakarta ke sini akan tersampaikan nanti.. Mari berjalan lagi
“Satu Tanjakan Lagi” maka selesailah pencarian kami, jika kalian perhatikan gundukan tanah pertama yang paling dekat dengan Tim adalah Jalan buntu, Sedangkan puncak sejati adalah Gundukan tanah yang curam yang berada di belakangnya, itu adalah Tanjakan paling terkenal di Merbabu, tanjakan terakhir dan tanjakan paling berbahaya masyarakat menamakanya “Ondo Rante”
Merapi dan Edelweis” Selamat datang di Pemandangan Sunset yang jarang
kalian lihat. Inilah sajian pemandangan yang indah, 
Berita Terkait!:   Secret Waterfalls in Halimun Salak National Park

Dengan tidak terlalu tergesa saya menikmati sajian pemandangan matahari terbenam yang cantik. Berkali – kali langkah saya terhenti betapa beruntungnya saya di sini, menikmati pergantian waktu yang ajaib. Lembayung kuning yang tersaji menjadikan lukisan terbaik yang pernah Sang Pencipta lukis hari itu.

Sabana Satu dan Dua Semakin dekat.

Jalan mulai gelap, sedikit membuat kami panik, Suhu turun dengan ekstrim, angin yang berhembus menjadikan perjalanan lebih berat dari biasanya. Kami bersama saling berpadu tolong menolong masing-masing supaya tidak ada yang tertinggal.
“Pijakan” sebenernya Pijakan disini tidak terlalu baik, karena lembut dan
berpasir halus, ini mengakibatkan kita bergerak dengan lamban dan sangat hati
hati karena jika tidak pijakan kami akan lepas dan jatuh berguling.
Suhu semakin menurun, dan waktu semakin mengejar. Ajaibnya di posisi ini saya menemukan artefak seperti di puncak Kentheng Songo, Tapi saya tidak sempat memfoto karena saat itu kamera belum saya keluarkan batere barunya. Setelah menyaksikan pemandangan yang indah ini akhirnya saya mengeluarkan kamera kembali dengan susah payah. Sayangnya bukti saya menemukan artefak itu tidak bisa di abadikan

“Majesty of Merapi” Gunung teraktif di Indonesia ini adalah harta karun berharga yang dimiliki masyarakat Indonesia, penuh mistis dan begitu gagah. Wilayah sekitarnya adalah tanah yang luar biasa subur, tembakau, adalah salah satu komoditas yang paling menjadi primadona di Indonesia.

“Milky Way of Merbabu” Menyaksian pemandangan Indah di Malam ini sangat
luar biasa. Dengan mata telanjang kita bisa melihat barisan bintang ini. Tapi
karena suhu udara yang begitu dingin membuat saya tidak bisa lama-lama di
luar tenda. akhirnya yang saya dapatkan hanya Foto sekedarnya ini.
Perjalanan ini terlaksana atas izin Penguasa Semesta Alam, kami hanyalah bulir tak berdaya yang haus akan kebesaranMu. Kami tidak memiliki daya selain Engkau yang izinkan dan kami tidak mencapai titik ini jika Engkau tidak mentakdirkan. Merbabu Sang Ibu, terima kasih untuk Cinta yang diberikan,
Terima kasih untuk 
  • Magipala Jakarta 
  • rekan-rekan Metapasa, 
  • rekan-rekan D’coffeters
  • rekan-rekan  D’cobain Explore.

Komentar