oleh

Tentang Puncak Gunung Ceremai

Ucapan Terimakasih atas suksesnya HPN dan HUT PWI Sumsel ke 75
Kaldera Puncak Gunung Ceremai yang bisa kalian jajaki

 

ExtraNews – Gunung Ceremai memiliki puncak gunung yang memiliki kaldera yang cukup luas, ketika kita mencoba untuk mengitari seluruh kaldera puncak Ceremai maka kalian membutuhkan waktu kira-kira 1 jam. Terletak di ketinggian 3078 Mdpl menjadikan tidak dapat tumbuhnya pepohonan di puncak Gunung Ceremai, yang hanya tumbuh adalah tanaman pendek seperti cantigi.
 
Puncak Gunung Ciremai memiliki keindahan yang menakjubkan, terlebih saat matahari mulai terbit dari ufuknya. Kalian akan disajikan pemandangan matahari terbit dan lautan awan yang berada dibawah kaki kalian, Puncak Gunung Ciremai terkenal memiliki samudara awan yang sudah terkenal.
 
Berada di Puncak Gunung Ciremai kalian akan melihat pemandangan alam tanpa penghalang apapun, tidak ada pepohonan ataupun bebatuan yang menghalangi pemandangan antara daratan dibawah kita, awan dan langit, begitu menakjubkan pemandangannya sampai-sampai saya cukup betah di atas sini selama lebih dari 2 jam.
 
Kawah Gunung Ceremai terlihat dari Batulingga
Kondisi Puncak Gunung Ceremai
 
Area Puncak Gunung Ciremai memiliki luas lebih dari 500 hektar, dan terdiri dari batuan sedimen tersier yang aman untuk dipijak. Puncak Gunung Ciremai memiliki dua kawah yang memiliki luas yang berbeda, kawah barat memiliki radius 400 m dan kawah timur memiliki radius 600m. Bibir kawah yang menjadi pijakan para pendaki berkisar antara 3 –  5 Meter, dan cukup aman untuk dipijak tapi jika kondisi sedang ramai maka para pendaki harus waspada dan hati-hati.
 
Gunung Ceremai termasuk adalam gunung yang masih aktif, sehingga mengeluarkan aktivitas vulkanik sepanjang tahun. Aroma belerang cukup menyengat jika berada di Puncak Gunung Ciremai, dan terlihat dari puncak ada asap tipis yang membumbung keluar menandakan bahwa gunung ini masih aktif. Tergolong sebagai Gunung Api Kuarter Aktif, Tipe A dan berbentuk Strato menjadikan Gunung Ceremai memiliki potensial panas bumi yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan. Tapi sampai saat ini terjadi penolakan terhadap pemanfaat panas bumi dari Gunung Ceremai, terlebih hal ini memiliki potensial merusak alam.
 
Salah satu Tanda Puncak Ceremai, Mungkin saat ini
Sudah terdapat prasasti
Sunrise Puncak Gunung Ceremai
 
Lakukanlah summit attack pada pukul 3-4pagi, camp yang paling cocok menjadi tempat beristirahat sebelum summit attack adalah Pos Gua Walet. Dari pos ini perjalanan tidak terlampau lama berkisar antara 1-2 jam perjalanan menanjak, gunakanlah masker untuk menghalau debu yang masuk ketika akan menuju puncak.
Setelah sampai puncak kalian akan melihat jalur puncak yang mengelilingi kaldera, untuk sampai puncak sejatinya kalian bisa ikuti jalan tersebut sampai bertemu prasasti sebagai tanda puncak tertinggi Gunung Ceremai. Dari sinilah kalian bisa menunggu saat matahari terbit, mungkin bisa memasak sedikit miniman hangat sambal menunggu matahari terbit.
 
Saat Sunrise tiba alihkan pandangan kalian arah Timur (Majalengka), dari sinilah matahari akan terbit dari ufuknya. Diawali dengan lembayung oranye, ungu dan biru yang menyatu menjadikan waktu itu adalah magic hour yang sering jadi buruan para photographer alam bebas, setelah menunggu sejaka maka kalian akan disambut matahari yang muncul dari horizon langit berbentuk bulat dengan warna oranyenya seperti kuning telur. Inilah moment terbaik kalian saat berada di puncak Gunung Ceremai.



Kondisi medan pendakian menuju Puncak Ceremai

 

Legenda Puncak Gunung Ceremai
 
Gunung Ceremai oleh masyarakat Cirebon, Kuningan dan sekitarnya percaya bahwa Gunung Ceremai ada hubungan yang kuat dengan Sunan Gunung Jati yang termahsyur di kalangan umat islam di Jawa Barat. Diyakini bahwa tahun 1521-1530, Sunan Gunung Jati diyakini bertapa di PUncak Gunung Ceremai. Saat itu bangsa portugis sedang menjajah Indonesia. Lokasi dimana Sunan Gunung Jati di Puncak Ceremai adalah batulingga, yang mereka percaya bahwa tempat ini sakral.
 
Satu lagi kisah terkait Puncak Gunung Ceremai, yaitu Nyi Linggi dan Macan Tutul. Setelah Sunan Gunung Jati tidak bertapa lagi di Puncak Gunung Ceremai, maka selanjutnya yang menempati Batulingga adalah Nyi Linggi dan Macan Tutulnya. Tapi pertapaan itu gagal dan menyebabkan Nyi Linggi meninggal dan mayatnya di temukan oleh masyarakat setempat, sedangkan macan tutulnya hilang entah kemana. Hingga saat ini kabarnya banyak masyarakat yang bertemu dengan Nyi Linggi dan Macan Tutulnya. [red*]

 

Komentar

Berita Hangat Terbaru Lainya