oleh

GUNUNG MERBABU VIA WEKAS (1) #AgungTravelBlog

Ucapan Terimakasih atas suksesnya HPN dan HUT PWI Sumsel ke 75
Stasiun Senen Dini Hari
Stasiun Senen
Hiruk Pikuk senen pagi itu cukup membuat saya tercengang. Subuh hari masyarakat Jakarta sudah tumpah riuh menyambut sang fajar padahal jam baru menunjukkan pukul 4.00 dini hari, sebuah keajaiban dari perjuangan seorang manusia mencari rejeki untuk keluarganya. Kami serombongan duduk bergerombol bersama carrier yang besar dan bercanda menyambut datangnya kereta menuju Semarang.
“Subuhan dulu sebelum kereta datang… Anak Gunung ga sholat ga keren. haha” Ucap teman saya.
Kereta pun datang, kita berangkat bersama menuju Semarang. Perjalanan cukup riuh karena kami adalah segerombolan yang cukup banyak, mungkin membuat kereta saat itu cukup meriah di gerbong kami. Perjalanan cukup jauh dan tidak terasa karena sangat menyenangkan bersenda gurau di gerbong bersama teman teman seperjalanan. Seketika matahari mulai terbenam tak terasa kita tiba di St.Poncol Semarang.

Pose yang aduhai (Alun-Alun Salatiga)
Salatiga
Berdiam dalam lelap segerombolan yang ramai di gerbong mulai tidur mendengkur, barisanya tidak beraturan cowok cewek dalam satu barisan. Kami istirahat di Basecamp Mapala Salatiga, sedikit bertanya banyak berdoa tentang medan yang akan kami tempuh esok hari. Beruntung mereka bersedia menemani kami untuk mendaki esok hari, sebagai penunjuk jalan (guide). Sebelumnya kami sempatkan berkunjung ke Alun-Alun Salatiga, bentuknya mirip seperti alun-alun selatan Jogja dan ramainya hampir persis sama.
“Yuk ah Foto..!! Abis itu Molorrrr.. Besok berangkat pagi cuy..” Kami sempatkan berfoto bersama sesaat berlatar belakang Alun – Alun yang gelap.hahaha
Mau kemana jeng..

Jalur Kopeng

Seru.. kata yang terlintas dari pikiran saya saat menuju Basecamp Kopeng, salah satu pintu masuk Taman Nasional Merbabu. Kita menggunakan mobil bak yang cukup besar menampung kita semua, bisa dengan jelas merasakan hembusan dingin wilayah pegunungan Salatiga, cukup dingin untuk pagi yang cerah. Dari truk kami bisa melihat dengan jelas gunung andong yang terkenal itu dan gunung-gunung kecil disekitarnya, sangat cantik dengan barisan tanaman tembakau yang ditanam dimana-mana. Perjalanan cukup jauh dan track menanjak, perjalanan berakhir setibanya di depan Basecamp melakukan regristasi dan persiapan pendakian.
“Yang mau boker, boker dulu disini, diatas harus gali.. repot nanti.. hahaha” ucap salah satu teman dengan ekspresi yang konyol.
Masih datar cu.. haha
Pos I – Pos II
“Hueekkk… Mata gua gelap, ga keliatan apa-apa..” Ungkap Yogi salah satu pendaki cewek bertubuh buntal yang sudah ngedrop padahal baru beberapa menit berjalan.
Kondisi track awal memang aspal, kontur aspal yang keras dan menanjak mengakibatkan pendakian terasa berat, hal inilah yang membuat ia cukup shock dengan track awal. Ditambah kondisi fisiknya sedang tidak baik (masuk angin), kamipun menemaninya memulihkan kondisinya sambal menggosok minyak angin ke punggung.
“Hahahaha… Baru awal gi mau turun? Tuh Basecamp masih keliatan..” Canda salah satu rombongan.
Sebenarnya masih keliatan dari sini tuh basecamp, tapi udah kecil gentengya doang yang keliatan hampir 2 jam kita meninggalkan basecamp tapi pendakian terasa lambat karena kasus masuk angin ini. Akhirnya kami berjalan perlahan-lahan menuju Pos berikutnya.
Pose Dikit BBF,, wkwk
POS III
Pohon mulai terbuka, Pos ini sering digunakan untuk anak Pramuka membangun camp untuk melakukan kegiatan alam bebas. Suhu cukup terik saat itu, cukup membuat cairan di tubuh hilang dengan cepat tak terasa sudah waktu sholat dzuhur. Kamipun sholat bergantian sambil masak sekedarnya untuk makan siang.
“Masak apa kita hari ini..?? masak indomieee…..!! “ Tawa kami pecah mendengar guyonan teman yang yakin bahwa menu kali ini paling pas adalah indomie. Betul karena perjalanan masih panjang dan mie adalah makanan paling praktis sampai saat ini.
Dari kejauhan saya melihat seseorang yang saya kenal, itu Yogie dan Budi. Teman satu angkatan saya diam-diam datang tanpa diundang, ternyata mereka melakukan perjalan ini sendirian tanpa bilang-bilang. Kami bertemu di POS III saat sedang makan siang, kedua teman saya ini berangkat dari Tangerang dan sengaja memang datang terlambat karena ada perkerjaan.
Perjalanan kami lanjutkan menuju POS IV tempat kita akan membangun tenda sebelum summit, sebenernya cukup jauh tapi karena sumber air dan beberapa pertimbangan kami semua sepakat untuk membangun tenda disini.
Camp Ground, Luasss tinggal pilih.
POS IV
Sumber air yang cukup banyak dan mudah bisa peroleh disini, siapa yang sangka berada di lereng gunung Merbabu memiliki pemandangan sunset yang cantik. Padahal itu tanjakan berbukit tinggi dan panjang yang menanti kita esok hari, cantik sekali lembayung oranye dengan barisan ungu sekejap membuat sebagian dari kami hendak berfoto berlatar belakang pemandangan itu. Tapi faktanya suhu udara disana saat itu sangat-sangat dingin dan berhembus membuat mati kutu berlama-lama di luar. Padahal langit masih terang dan matahari belum sepenuhnya tenggelam.
Malam di POS IV Cukup mencekam, bukan karena suasanya. Tapi suhu udaranya yang luar biasa dingin, dan hembusan angin yang tidak berhenti-henti menjadikan kita disini hanya bisa meringkuk kedinginan berharap ada pemanas ruangan. Haha
“Diiiinngggiiiiiinnnn Beeennnneeerrrr daahhhH….” Celutuk saya dengan jaket berlapis-lapis dan kaos kaki yang sudah masuk kelipatan paha.

Sesaat Menuju Pos Pemancar
POS Pemancar
Cukup tinggi posisi matahari saat kami melanjutkan perjalanan. Pemandangan cantik tak henti-hentinya saya ungkapkan, kami berdiri di punggungan yang bertebing berbatu dengan pemandangan kaldera gunung Merbabu yang cantik. Hamparan rumput hijau kekuningan adalah daya Tarik Merbabu oleh siapapun yang datang kemari, kami berkali-kali diam menyaksikan punggungan gunung yang sudah kita lalui hari kemarin. Kami beristirahat sebentar di Jembatan Setan, jalan setapak yang menyajikan jurang dalam di kanan dan kiri. Kami memasak menu makan siang disana dan siap untuk menuju POS Pemancar, saat itu kabut menutupi jarak pandang kami. Sangat pekat dan hampir sulit melihat padahal matahari bersinar terang saat itu. Sesampainya di POS Pemancar rombongan berisitarahat sejenak, sedangkan saya duluan bersama teman saya dari Salatiga untuk mencicipi Puncak Syarif. Di samping rombongan sebenarnya adalah Puncak Pemancar, bisa untuk melihat pemandangan sunrise yang cantik tapi saat itu Puncak lebih menggiurkan bagi rombongan.

Bersambung..
Merbabu (2): Filosofi Kekuasaan Tuhan Semesta Alam

Komentar

Berita Hangat Terbaru Lainya