Ide pembentukan Kawah Candradimuka Bagi Calon Pejabat Seluruh Indonesia
Mohon di up postingan ini ke Prabowo Subianto
Kementerian Sekretariat Negara RI
Kementerian Pertahanan Republik Indonesia
KOLOM PEMBACA-OPINI, ExtraNews – Lagi lagi isi podcast Ferry Irwandi dengan Deddy Corbuzier membuat bu guru terdiam. nyess… tamparan halus yang membuat sisi kemanusiaan merinding.
Dalam percakapan yang mengiris hati itu, Ferry menumpahkan isi kepalanya yang “berisik” pasca menjadi relawan bencana. Ia berbicara tentang Survivor’s Guilt—perasaan bersalah karena selamat dan merasa apa yang dilakukannya belum cukup, meski sudah berhari-hari di lapangan. “Badan di sini, pikiran di sana,” ujarnya, menjelaskan ironi bahwa ia lebih bisa tidur di lokasi bencana daripada di kasur empuk rumahnya sendiri karena ikatan batin (sense of belonging) yang kuat dengan para korban.
Demi totalitas ini, Ferry rela “membakar” kariernya; membatalkan peluncuran buku besarnya di bulan Desember dan menghanguskan berbagai kontrak kerja dengan sikap masa bodoh yang getir. Lebih jauh, ia menegaskan transparansi dana dan bersumpah tidak akan berhenti membantu; jika dana donasi publik habis, ia siap merogoh tabungan pribadinya sendiri sebagai bentuk komitmen moral yang tak terbatas.
Sahabat, dan Saudaraku sebangsa setanah air,
Pernahkah kalian bertanya, mengapa seorang pemuda yang seharusnya sedang menikmati puncak kejayaan kariernya, tiba-tiba memilih jalan sunyi yang penuh debu, keringat, dan risiko dicap “pencari sensasi”? Di mata orang awam yang tidak menyukai kiprahnya (jarang banget) , Ferry mungkin terlihat impulsif atau emosional. Tapi di mata Bu Guru, Ferry sedang mengalami “sakit” yang sangat mulia.
Dalam psikologi, gejala sulit tidur, rasa bersalah saat makan enak, dan rasa bersalah yang larut serta marah karena lambat nya penanganan bencana tapi tudak sanggup menyalahkan siapa2, itu adalah tanda-tanda Vicarious Trauma dan Survivor’s Guilt.[1, 2] Otak Ferry menolak “normalitas” Jakarta yang hedonis karena syaraf empatinya (mirror neurons) telah tersandera oleh penderitaan rakyat. Ia sedang mengalami guncangan batin karena melihat ketimpangan yang begitu brutal di depan matanya.
Namun, mari kita bedah ini dengan pisau bedah “langit” agar kita paham apa yang sedang terjadi di relung jiwanya. Apa yang Ferry rasakan sejatinya adalah manifestasi Ukhuwah yang paling murni; “kal jasadil wahid” (seperti satu tubuh).[3] Jika satu bagian tubuh sakit, seluruh tubuh ikut demam. Ferry sedang demam tinggi. Keputusannya membatalkan peluncuran buku demi korban bencana adalah bentuk nyata dari Ithar [4, 5]—sebuah tingkatan altruisme tertinggi di mana seseorang mendahulukan orang lain di atas dirinya sendiri, bahkan saat ia sendiri butuh.
Dan kemarahannya pada lambannya penanganan karenan banyak kendala. Itu bukan emosi labil. Itu adalah Ghirah [6]—kecemburuan suci yang dicintai Tuhan, kemarahan yang muncul ketika melihat keadilan bagi kaum lemah belum terlihat di optimalkan.
Ferry takut, jangan-jangan kenyamanan hidupnya di Jakarta adalah Istidraj [7]—nikmat yang sebenarnya adalah jebakan yang melalaikan sebelum azab datang.
Lalu, di mana letak “Gajah di Pelupuk Mata” yang sering kita abaikan? Inilah rahasia umum yang menyakitkan: Kita punya ribuan pejabat yang lulus dengan predikat “Sangat Memuaskan” dari berbagai Diklatpim dan kursus kepemimpinan, tapi mengapa respon mereka terhadap bencana seringkali terasa dingin, kaku, dan lamban, bahkan bernarasi kurang empati bahkan ada yg nir empati?
Sahabatku, “aturan main” yang tak tertulis di negeri ini nampaknya berbunyi: “Jadilah pejabat yang tertib administrasi, bukan pejabat yang peka hati.”
Sistem pelatihan kepemimpinan kita seringkali mencetak administrator yang ulung mengisi formulir pertanggungjawaban, tapi gagal mencetak manusia yang bisa merasa. Pejabat kita dilatih dalam ruang ber-AC, simulasi di atas kertas, atau studi lapangan ke tempat-tempat yang sudah maju (best practice).[8, 9] Mereka tidak memiliki memori otot (muscle memory) tentang bagaimana rasanya lapar, bagaimana rasanya antre jatah nasi bungkus, atau bagaimana rasanya dipersulit birokrasi saat rumah hancur.
Akibatnya, kebijakan yang keluar hanyalah tinta di atas kertas, bukan nyawa.
Apakah kita akan membiarkan jurang ini terus menganga? Apakah wajar jika relawan seperti Ferry yang bekerja pakai uang sendiri justru nanti dicurigai dan dilaporkan, sementara birokrat yang bekerja pakai uang rakyat justru berlindung di balik prosedur kaku?
Untuk Bapak Presiden, Bapak Prabowo yang Bu Guru hormati. Bapak adalah seorang patriot sejati. Bapak paham betul arti “Bela Negara” bukan hanya angkat senjata, tapi angkat rasa untuk melindungi rakyat dari penderitaan.[10, 11] Bu Guru dengan rendah hati memohon, tolong ubah kurikulum mental pejabat kita. Jangan lagi kirim mereka sekadar “wisata dinas” atau studi banding seremonial. Pidato bapak membuat Bu Guru merinding pas acara penyerahan 6,6 T dan lahan 3 sd 4 juta hektar kemarin. Bapak bangga mati pada saat membela rakyat Indonesia. Untuk itu kita butuh reformasi total pak.
Kita butuh kurikulum Social Immersion atau Imersi Sosial yang radikal.[12] Wajibkan calon pejabat untuk menjalani Live-In [8, 13] yang sesungguhnya—tinggal di rumah gubuk warga termiskin, makan apa yang mereka makan, tidur di alas yang sama, tanpa ajudan, tanpa fasilitas VIP. Biarkan mereka merasakan Poverty Simulation [14, 15] yang nyata, bukan sekadar permainan peran. Biarkan mereka merasakan frustrasinya tidak punya uang dan harus punya cara bertahan hidup dengan keterbatasan banyak hal. Hanya dengan cara itu, kita bisa menanamkan “chip” empati ke dalam sistem syaraf birokrasi kita.
Bu Guru percaya, di bawah kepemimpinan Bapak, kita bisa mencetak Ksatria-Ksatria birokrasi yang memiliki Ghirah pembelaan rakyat sekuat Ferry Irwandi, namun dengan kewenangan negara di tangan mereka. Mari kita doakan agar para pemimpin kita diberikan kekuatan untuk meruntuhkan tembok ego dan membangun jembatan hati nurani. Karena pada akhirnya, jabatan hanyalah titipan, tapi jejak kemanusiaan adalah keabadian.
#Salam LitNum Ipoleksosbudhankamnasrata (Literasi Numerasi, Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Pertahanan, Keamanan Nasional Rakyat Semesta).
[**]












