- ISRA’ MI’RAJ: JEMBATAN KOSMIK ANTARA LANGIT DAN BUMI, Oleh: Dra. Anisatul Mardiah, M.Ag, Ph.D, Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran IslamUniversitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang
Pengantar
Peristiwa Isra’ Mi‘raj merupakan salah satu episode paling fundamental dalam sejarah Islam, karena bersifat mukjizat dan memiliki makna teologis dan simbolik yang mendalam. Isra’ Mi‘raj menggambarkan perjalananRasulallah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Peristiwa ini merepresentasikan pertemuan kosmis antara realitas bumi dan langit, antara dunia manusia dan tatanan Ilahi. Dalam konteks ini, Isra’ Mi‘raj dapat dimaknai sebagai sebuah jembatan kosmis yang menghubungkan dimensi profan dan sakral.
Makna simbolik dan sosial dari peristiwa Isra’ Mi‘rajsering terabaikan karena terlalu fokus pada aspek historis-teologis atau perdebatan mengenai sifat fisik dan spiritual dari perjalanan tersebut. Peristiwa Isra’ Mi‘raj sejatinya memiliki makna simbolik dan sosial sebagai mekanisme penghubung antara dua dimensi, yaitu manusia dan Tuhan. Oleh karena itu, tulisan ini mencoba untuk menganalisis Isra’ Mi‘raj sebagai jembatan kosmis antara langit dan bumi dengan mengintegrasikan perspektif teologi Islam dan sosiologi agama. Analisis ini penting untuk menunjukkan bahwa Isra’ Mi‘raj bukan hanya peristiwa masa lalu, tetapi memiliki relevansi konseptual bagi pemahaman relasi manusia, Tuhan, dan tatanan sosial.
Isra’ Mi‘raj dalam Perspektif Teologi Islam
Dalam teologi Islam, Isra’ Mi‘raj dipahami sebagai perjalanan Rasulallah SAW yang istimewa dan unik. Al-Qur’an secara eksplisit menyebut peristiwa Isra’ dalam QS. Al-Isra’ ayat 1, yang menegaskan bahwa perjalanan tersebut terjadi atas kehendak dan kekuasaan Allah SWT. Dimensi Mi‘raj dipertegas dalam berbagai hadis sahih yang menjelaskan Rasulallah SAW naik ke langit dan bertemudengan Allah SWT.
Makna teologis utama dari Isra’ Mi‘raj terletak pada penegasan transendensi dan immanensi Tuhan. Di satu sisi, Allah SAW dideskripsikan Mahatinggi dan melampaui jangkauan manusia. Di sisi lain, melalui Isra’ Mi‘raj, Tuhan “mendekatkan” diri-Nya kepada manusia dengan membuka jalur komunikasi langsung. Penetapan salat dalam peristiwa ini menjadi simbol paling konkret dari relasi tersebut, sehingga salat berfungsi sebagai sarana komunikasi berkelanjutan antara manusia dan Tuhan.
Dengan demikian, Isra’ Mi‘raj menegaskan bahwa hubungan langit dan bumi dalam Islam bukan hubungan yang terputus, melainkan hubungan yang aktif dan dinamis. Jembatan kosmis ini menunjukkan bahwa realitas Ilahi memiliki implikasi langsung terhadap kehidupan manusia di bumi.
Dimensi Simbolik: Isra’ Mi‘raj sebagai Jembatan Kosmis
Dalam kajian simbolik agama, Isra’ Mi‘raj dapat dipahami sebagai representasi pola universal dari perjalanan spiritual manusia. Clifford Geertz memandang agama sebagai sistem simbol yang membangun suasana hati dan motivasi yang kuat, menyeluruh, dan bertahan lama. Dalam kerangka ini, Isra’ Mi‘raj berfungsi sebagai simbol kosmik yang menggambarkan kemungkinan manusia untuk melampaui keterbatasan dunia material.
Jembatan kosmis antara langit dan bumi dalam Isra’ Mi‘raj merepresentasikan keterhubungan antara tatanan sakral dengan kehidupan sehari-hari. Perjalanan Rasulallah SAWdari ruang geografis konkret (Masjidil Haram dan MasjidilAqsa) menuju ruang metafisis menunjukkan bahwa pengalaman religius tidak terlepas dari konteks sosial dan historis. Dengan kata lain, yang sakral tidak menghapus yang profan, tetapi menembus dan memberi makna padanya.
Salat, sebagai “oleh-oleh” utama dari Isra’ Mi‘raj, berfungsi sebagai simbol jembatan kosmis yang bersifat repetitif. Melalui salat, umat Islam secara simbolik “menyeberangi” jembatan antara bumi dan langit setiap hari. Hal ini menegaskan bahwa jembatan kosmis tersebut tidak bersifat eksklusif bagi Rasulallah SAW, tetapi dibuka secara simbolik bagi seluruh umat manusia.
Perspektif Sosiologi Agama: Integrasi Langit dan Bumi
Dari perspektif sosiologi agama, Isra’ Mi‘raj dapat dimaknai sebagai mekanisme integrasi antara tatanan transenden dan tatanan sosial. Emile Durkheim memandang agama sebagai sistem kepercayaan dan praktik yang menyatukan individu dalam satu komunitas moral. Dalam konteks ini, Isra’ Mi‘raj dan salat berfungsi sebagai sumber legitimasi moral yang menghubungkan nilai-nilai Ilahi dengan kehidupan sosial.
Max Weber, melalui konsep rasionalisasi dan tindakan sosial bermakna, membantu menjelaskan bagaimana pengalaman transenden diterjemahkan ke dalam praktik sosial yang teratur. Salat, sebagai institusi yang lahir dari Isra’ Mi‘raj, mengatur ritme kehidupan sosial umat Islam dan membentuk etos disiplin, tanggung jawab, serta kepatuhan terhadap norma. Dengan demikian, jembatan kosmis antara langit dan bumi tidak berhenti pada ranah simbolik, tetapi diwujudkan dalam struktur sosial yang konkret.
Sedangkan Peter L. Berger melalui konsep sacredcanopy menjelaskan bagaimana agama menyediakan payung makna yang melindungi masyarakat dari kekacauan eksistensial. Isra’ Mi‘raj, sebagai narasi kosmik, berfungsi menopang payung sakral tersebut dengan menegaskan bahwa tatanan sosial di bumi berada dalam naungan tatanan Ilahi yang lebih luas.
Relevansi Kontemporer: Isra’ Mi‘raj dalam Dunia Modern
Dalam dunia modern yang ditandai oleh sekularisasi, fragmentasi makna, dan krisis moral, Isra’ Mi‘raj sebagai jembatan kosmis menawarkan perspektif alternatif tentang relasi manusia dengan realitas transenden. Sekularisme sering kali memisahkan secara tegas antara ruang publik dan ruang religius, sehingga agama direduksi menjadi urusan privat. Pemaknaan Isra’ Mi‘raj menantang pemisahan tersebut dengan menunjukkan bahwa yang transenden memiliki implikasi etis dan sosial yang nyata.
Salat, sebagai manifestasi jembatan kosmis, menyediakan mekanisme refleksi dan orientasi moral di tengah kehidupan yang serba cepat dan kompetitif. Ia memungkinkan individu untuk secara berkala “mengangkat diri” dari rutinitas profan dan menata ulang relasinya dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Dalam konteks krisis global—seperti bencana alam, ketidakadilan sosial, dan degradasi lingkungan—makna jembatan kosmis ini menjadi semakin relevan.
Penutup
Isra’ Mi‘raj sebagai jembatan kosmis antara langit dan bumi merupakan konsep kunci dalam memahami relasi antara dimensi transenden dan kehidupan manusia. Melalui perspektif teologis dan sosiologis, dapat disimpulkan bahwa Isra’ Mi‘raj tidak hanya menegaskan kemahakuasaan Tuhan, tetapi juga menghubungkan nilai-nilai Ilahi dengan tatanan sosial di bumi. Salat, sebagai hasil utama dari peristiwa tersebut, berfungsi sebagai jembatan simbolik yang terus-menerus menghubungkan manusia dengan realitas Ilahi.
Dengan demikian, Isra’ Mi‘raj tidak berhenti sebagai narasi mukjizat historis, tetapi hadir sebagai kerangka konseptual yang menjelaskan bagaimana agama membangun integrasi antara langit dan bumi, antara makna transenden dan praktik sosial. Pemahaman ini penting untuk menempatkan agama secara konstruktif dalam menjawab tantangan kehidupan modern yang semakin kompleks. @









