Berita  

APAKAH PENDIDIKAN DASAR (DIKSAR) IDENTIK DENGAN KEKERASAN??? #AgungTravelTips

apakah pendidikan dasar diksar identik dengan kekerasan agungtraveltips 53374
Mahasiswa Pencinta Alam (mapala) adalah wadah organisasi yang dibuat oleh mahasiswa itu sendiri atau berada langsung dari Universitas yang bersangkutan. Pendirian organisasi ini didasari oleh kebutuhan mahasiswa untuk meningkat soft skill, tidak hanya skill untuk melakukan olahraga pendakian gunung atau jelajah hutan dan pantai tapi juga soft skill dalam belajar untuk mengenal kegiatan manajemen, belajar komunikasi antar individu, belajar mengeluarkan pendapat dan mengatasi berbagai masalah, belajar mengenal dan memposisikan diri di suatu komunitas masyarakat dan berbagai macam pelajaran yang sekiranya tidak bisa didapatkan di bangku perkuliahan.
Berbicara mapala, maka kita akan berbicara kegiatan Diksar. Ini adalah agenda atau program yang sangat penting yang ada di dalam sebuah organisasi mapala, karena ini adalah cikal bakal bagaimana organisasi mapala dalam sebuah kampus bisa terus berjalan karena tidak kehabisan sumber daya manusia (SDM). Cuman kasusnya saat ini adalah para senior lupa apa konsep awal diksar dan sudah tentu hal ini dikarenakan kurangnya pemantuan dari yang berwenang atas organisasi kampus yang bersangkutan, dalam hal ini adalah pihak Universitas (Kampus). Kejadian yang paling baru adalah meninggalnya 3 orang Calon Anggota (Mahasiswa) pada kegiatan Diksar Kampus UII di Lereng Selatan Gunung Lawu, Tawangmangu (14-22 Januari 2017).
Diksar (Pendidikan Dasar) adalah kegiatan perekrutan anggota baru Mapala, namanya juga anggota baru pasti polos dan butuh bimbingan dari kakak kakak seniornya. Mereka butuh pengetahuan yang bermanfaat untuk mereka masuk dalam organisasi ini dan mereka butuh pandangan bagaimana menjadi seorang Mapala yang sebenar-benarnya seorang pecinta alam. Dan tentu jangan lupa Mapala yang soleh dan solehah.
Saya akan menceritakan pengalaman saya saat pertama kali saya mengenal dunia Mapala, pertama kali ikut diksar pada tahun 2007. Saya adalah mahasiswa baru yang polos serta sangat tidak mengetahui apa itu pendakian gunung, tidak pernah membayangkan sedikit pun bagaimana saya akan mendaki gunung bagaimana persiapanya, medannya, kondisinya, rintanganya, dan lain sebagainya. Saya hanya ikut-ikutan masuk ke dalam organisasi itu sebagai ajang hanya isi waktu, lambut laun berganti saya mendapat banyak sekali materi tentang pendakian gunung dan jelajah hutan. Contoh materi yang saya dapat dalam proses pendidikan awal adalah Manajemen Perjalanan, Navigasi, Pengetahuan Mountaineering, dan Survival. Kepala saya terbuka bahwa faktanya pendakian gunung dan jelajah hutan adalah kegiatan yang berbahaya tidak sembarangan dan butuh kematangan dari segi pengetahuan dan skill. Awal-awal saya masuk kedalam Mapala sangat menyenangkan karena kakak senior yang baik, membimbing dan senantiasa memberi nasehat yang baik untuk kegiatan kampus saya.
Lambat laun berjalan sampailah di ujung pemberian materi pendidikan, dan akan masuk ke dalam Diksar. Peralatan – Peralatan mulai di siapkan, ada yang beli pakai uang jajan dan lebih banyak yang pinjam dari kampus lain, senior mulai berubah dari wajah yang ramah menjadi wajah yang gahar. Semakin mendekati hari H senior semakin galak dan banyak komentar banyak memberikan kritik dengan nada bicara yang pedas. Dalam hal ini tidak ada proses pemukulan, penyiksaan dan perponcloan lainya, para senior sadar posisi mereka harus galak dan tegas karena kegiatan diksar ini adalah kegiatan yang tidak main-main karena butuh persiapan yang matang supaya kegiatanya berjalan lancar tanpa meninggalkan berita duka dari keberangkatan kami semua.
Hari H-2 senior makin beringas, kami dimarahi karena masih tidak lengkapnya list peralatan kami. Dengan galaknya mereka menceramahi kami dengan kata-kata sindiran yang pedas, mereka memberi waktu 1 hari untuk melengkapi peralatan yang sudah list supaya dilengkapi sampai lengkap sempurna. Pada akhirnya pun karena kita sudah lelah di omeli akhirnya kami melengkapi semuanya.
Hari H, Diksar dilakukan di Lereng Gunung Hambalang Tajur Bogor. Kegiatan penuh dengan kelelahan karena harus bejalan jauh berkilo-kilo membawa carrier yang luar biasa berat isinya, berkali-kali senior meneriaki kami untuk terus berjalan walau kaki ini sudah lelah. Senior memarahi kami untuk membangun bivak alam yang baik supaya tahan dari angin dan hujan, jika bivak kami jelek maka akan di rubuhkan lagi lalu disuruh membuat yang jauh lebih baik lagi, berkali-kali senior meneriaki kami untuk mencari bahan makanan yang bisa dimakan dari alam dan belajar memasak tanpa menggunakan kompor, senior memarahi kami kalau kami makan sangat sedikit karena terlalu lelah, mereka juga meneriaki kami kalau jam 10 malam semua kegiatan diberhentikan dan kami harus tidur tidak ada ngobrol dan bersenda gurau di Bivak kami. Proses praktek P3K yang salah dan tidak sesuai prosedur akan dimarahi habis-habisan sampai kami benar sebenar-benarnya dalam melakukan simulasi P3K terhadap rekan kami. Mengecek baik-baik tali temali yang kami pasang sebelum kegiatan simulasi mountaineering, dan akan memarahi kami habis-habisan jika Angkor tidak safety dan tidak sesuai prosedur.
Diksar, kegiatan yang sungguh sangat melelahkan. Tiada hari-hari di diksar tanpa teriakan, kata-kata yang pedas, serta intimidasi dari para senior. 
Taaappiiii…
Tidak ada pemukulan, tidak ada perponcloan, tidak ada penindasan, tidak ada penyiksaan, tidak ada luka yang diakibatkan dari tindak kekerasan. Kami semua capek tapi kami semua mendapatkan pelajaranya, materi yang diberikan diingat sampai kami lulus, kami masih ingat materi yang diberikan saat mulai melakukan pendakian awal bersama-sama anggota Muda dan bahkan terus ingat sampai kami memulai melakukan pendakian sendiri tanpa embel-embel organisasi Mapala. Kami cenderung memberikan berbagai macam saran yang baik, efektif, benar dan safety kepada teman-teman kami yang memiliki sedikit pengetahuan terkait pendakian Gunung. Kami mendaki dengan cara yang benar dan aman mementingkan keselamatan dibanding rasa penasaran.
Kasus Mapala UII adalah kasus yang perlu kita amati bersama, bahwa senior tugasnya adalah membimbing adik-adiknya bukan menyiksa dan membahayakan mereka. Bahwa wadah organisasi Mapala adalah instrument yang digunakan untuk mendidik dan memberi pengetahuan bukan wadah untuk melakukan penindasan serta ajang balas dendam. Mapala seharusnya adalah ajang prestasi bukan ajang gaya-gayaan, dan berujung pada duka seluruh civitas Mapala. Bayangkan jika tidak ada Mapala, bagaimana siswa-siswa alay yang minim pengetahuan bisa diselamatkan di gunung jika terjadi apa-apa. Bagaimana kami memberikan edukasi ke mereka jika ada persiapan mereka yang salah dan tidak matang dalam pendakian dan jelajah hutan. Bagaimana diksar seharusnya adalah kegiatan yang berpotensi menurunkan kasus kecelakaan di Kegiatan Pendakian Gunung di Seluruh Indonesia.
Mari para senior Mapala yang menjadi panutan adik-adiknya mari sama-sama kita bimbing adik kita dengan cara yang baik, dengan cara yang santun, dan memberikan kesan bahwa Mapala adalah wadah mereka untuk belajar berorganisasi. Jadikanlah Mapala adalah tempat mereka membangun potensi mereka di masa depan dan untuk Bangsa Indonesia. Hapus paradigma negative dari Mapala, mari sama-sama kita mawas diri. Bangun Mapala menjadi lebih baik lagi ke depan, buang jauh budaya tidak baik dalam Mapala. 
#MapalaIndoneisaBerduka #MapalaBukanPembunuh
#SafetyHiking #GunungBukanTempatSampah

BACA JUGA INI:   Demi Kelancaran Pembangunan, Mobil Truk Ikut Suplai Material