alfaone 1
OPINI  

ETIKA POLITIK DI ERA MEDIA SOSIAL Oleh: Muhammad Izzuddin Muflihuun Tibandayona, Kader Gerindra

ETIKA POLITIK DI ERA MEDIA SOSIAL

Oleh: Muhammad Izzuddin Muflihuun Tibandayona, Kader Gerindra

Di era media sosial, setiap orang memiliki kebebasanuntuk berbicara, berpendapat, bahkan memengaruhicara berpikir orang lain. Dalam hitungan detik, sebuah informasi dapat menyebar ke seluruh penjurunegeri dan ini merupakan kemajuan yang patutdisyukuri karena masyarakat kini memiliki ruanguntuk ikut menyebarkan pemerintahan sertamenyampaikan aspirasi.

Namun, kebebasan tersebut juga membawatantangan besar. Tidak sedikit pihak yang memanfaatkan media sosial untuk menyebarkaninformasi yang belum tentu benar, membangunnarasi negatif tanpa dasar, atau memperdayaperbedaan demi kepentingan tertentu. Akibatnya, ruang digital yang seharusnya menjadi tempatpenyampaian gagasan justru berubah menjadi arena saling menyerang dan saling menjatuhkan.

Kita sering kali lebih mudah percaya pada kabaryang membuat marah daripada informasi yang mengajak berpikir. Lebih mudah membagikan beritayang sensasional daripada mencari kebenarannyaterlebih dahulu. Padahal, satu unggahan yang tidakbenar dapat mempengaruhi ribuan bahkan jutaanorang.

Sebagai bangsa yang besar, Indonesia tidak akanmaju jika masyarakatnya terus terjebak dalambudaya saling mengobrol, saling menghina, dan saling mengadu domba. Perbedaan pilihan politikadalah sesuatu yang wajar dalam demokrasi, namunmenjadikan perbedaan tersebut sebagai alasan untukmenyatukan persatuan merupakan sikap yang justrumelibatkan bangsa sendiri.

Pemerintah terus berupaya membangun Indonesia melalui berbagai kebijakan, pembangunaninfrastruktur, transformasi digital, peningkatankualitas pelayanan publik, hingga penguatan literasidigital. Tentu saja setiap kebijakan dapat dikritisi dan dievaluasi, karena kritik adalah bagian daridemokrasi. Akan tetapi, kritik yang membangunakan menghasilkan perbaikan, sedangkan kritik yang berisi fitnah, hoaks, atau hasutan hanya akanmemperbesar perpecahan.

Penerapan etika politik menjadi sangat penting. Etika mengajarkan bahwa kebebasan berbicara harusdisertai tanggung jawab. Menyampaikan pendapatboleh, tetapi persatuan jangan sampai menjadikorban. Mengkritik boleh, tapi tidak menyebarkandengan kebencian, pun dengan perbedaanpandangan, tapi jangan sampai kehilangan rasa hormat kepada sesama anak bangsa.

Sebagai masyarakat, kita juga memiliki tanggungjawab yang sama besarnya. Jangan sampai kitamenjadi bagian dari rantai penyebaran informasiyang belum jelas kebenarannya. Jangan mudahterpancing oleh narasi yang sengaja dibangun untukmemecah belah masyarakat. Jangan pula membiarkan pesimisme menguasai cara kitamemandang masa depan Indonesia.

Bangsa yang maju bukanlah bangsa yang tidakpernah memiliki masalah, melainkan bangsa yang mampu menyelesaikan masalah secara bersama-sama. Kemajuan tidak akan lahir dari caci maki, melainkan dari kerja sama. Persatuan tidak akanterwujud jika setiap hari kita sibuk memperbesarperbedaan dan mengabaikan tujuan bersama.

Media sosial seharusnya menjadi sarana untukmenyebarkan optimisme, edukasi, serta semangatmembangun negeri. Mari jadikan ruang digital sebagai tempat bertukar gagasan, bukan tempatmenyebarkan kebencian. Mari biasakan memeriksafakta sebelum membagikan informasi, berdiskusidengan ramah, dan mengutamakan kepentinganbangsa di atas kepentingan kelompok.

Indonesia membutuhkan masyarakat yang kritis, namun juga bijaksana. Membutuhkan warga yang berani menyampaikan pendapat, namun tetapmenjunjung tinggi etika. Sebab, masa depan bangsatidak hanya ditentukan oleh pemerintah atau para pemimpin, melainkan juga oleh sikap setiap warganegara dalam menjaga persatuan dan menciptakanruang publik yang sehat.

Indonesia membutuhkan masyarakat yang kritis, namun juga bijaksana. Membutuhkan warga yang berani menyampaikan pendapat, namun tetapmenjunjung tinggi etika. Sebab, masa depan bangsatidak hanya ditentukan oleh pemerintah atau para pemimpin, melainkan juga oleh sikap setiap warganegara dalam menjaga persatuan dan menciptakanruang publik yang sehat.

Dan pada akhirnya, apakah kebebasan menafsirkanyang kita miliki sudah kita gunakan dengan penuhtanggung jawab?

lion parcel