alfaone 1
OPINI  

Menimbang Ulang Sosok Kartini : Antara Simbol Emansipasi VS Menguburkan Jejak Spiritual Islam, Oleh : M. Umar Husein

Menimbang Ulang Sosok Kartini :

Antara Simbol Emansipasi VS Menguburkan Jejak Spiritual Islam, 

Oleh : M. Umar Husein

 Setiap tanggal 21 April, Indonesia gegap gempita merayakan Hari Kartini. Namun, di balik seremonial kebaya dan sanggul, muncul diskusi kritis yang mempertanyakan : Mengapa harus Kartini? Kenapa tidak Cut Nyakdin yang lebih gagah berani diangkat jadi Pahlawan? Apakah ada upaya sistematis dalam mengaburkan fakta sejarah demi kepentingan tertentu?

Bahasan ini bukan tanpa alasan. Jika kita membedah sejarah lebih dalam, muncul beberapa poin krusial yang sering kali luput dari buku teks sekolah, namun menjadi kegelisahan di tengah masyarakat.

R.A. Kartini, dikenal sebagai pahlawan emansipasi wanita Indonesia. Dalam banyak literatur, R.A. Kartini lahir dari orang tua yang taat beragama Islam. Yaitu Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan M. A. Ngasirah. M.A. Ngasirah dalam beberapa literatur adalah putri dari seorang tokoh agama. Karena itu waktu kecil, orang tuanya mewajibkan RA. Kartini untuk belajar ngaji atau belajar Al-Quran di Pendapa Jepara. Tempat tinggal dinas kedua orang tuanya. Dari situlah R.A. Kartini sempat bertanya kritis kepada teman Belandanya, RM. Abendanon. Buat apa belajar ngaji Al-Quran jika tidak tahu artinya.

Sampai kemudian, suatu ketika Kartini dengan Bupati DemakTjondronegoro IV. Tjondronegoro IV kemudian memperkenalkannya dengan Mbah Kyai Sholeh Darat. Tak Lain adalah guru dari tokoh besar Pencetus Ormas NU Hasyim Asy’ari dan Ormas Muhammadiyah Ahmad Dahlan.

Setelah bertemu dengan Kyai Sholeh Darat, RA. Kartini kemudian menginginkan Al-Quran dibuatkan tafsirnya, supaya mudah dipahami olehnya dan teman-temannya. Setelah proses pengajian dengan Soleh Darat berlangsung lama, KH Soleh Darat pelan-pelan memenuhi usul saran dari Kartini, yakni membuat Kitab Tafsir. Dengan huruf arab pegon. Ini bertujuan agar bangsa Belanda tidak tahu.

Kitab ini diberi judul Tafsir Al-Quran Faidurrohman atas Usulan RA Kartini”, bernuansa “sufistik”, diterbitkan di Singapore tahun 1894-1312 H. Kementerian Agama menyitir Tafsir ini merupakan Kitab Tafsir Al-Qur’an Pertama kali diterbitkan di kawasan Asia Tenggara.  Salah satu bentuk sebuah warisan intelektual Islam dalam kajian penafsiran mufassir di Jawa pra-modern. Karya besar Syekh Muhammad Shalih Ibnu Umar al-Samarani atau dikenal dengan Kyai Haji Sholeh Darat. Sebuah karya tafsir yang penuh dengan internalisasi budaya, khususnya Jawa dengan ajaran Islam (Arifin, 2018, p.14).Mbah Kyai Sholeh darat kemudian menghadiahkan Tafsir Faidurrahman kepada Kartini. Beberapa sumber menjelaskan tafsir itu sampai Surat Ibrahim. Karena Kyai Sholeh Darat wafat.

Pionir Pemikiran Islam vs Pahlawan Medan Juang

Kritik pertama yang sering muncul adalah perbandingan antara Kartini dengan tokoh perempuan lain seperti Cut Nyak Dhien atau Martha Christina Tiahahu. Jika pahlawan lain bertaruh nyawa di medan perang, Kartini berjuang lewat pena, mengandalkan animo dan gairah belajar Agama Islam; menuliskannya dalam bentuk Surat-menyurat dengan temannya yang kemudian diterbitkan berbentuk Buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Penetapan Kartini sebagai ikon nasional oleh Presiden Soekarno pada 1964 dianggap sebagai langkah strategis untuk menonjolkan aspek intelektualitas dan pendidikan dalam pembangunan bangsa. Namun, bagi sebagian kalangan, narasi ini dianggap terlalu menonjolkan satu figur sementara pahlawan lain yang secara fisik melawan penjajah seolah berada di baris kedua.

Kritik Kedua, narasi penghargaan kepada Kartini lebih diutamakan daya berpikir kritis seorang Kartni, sejak usia 13 tahun sudah menunjukkan potensi intelektualnya. Ini ditafsirkan sebagai emansipasi berpikir seorang wanita. Sehingga saat ini Hari Kartini diperingati dengan melaksanakan Lomba Busana Kebaya Ala Kartini, berlenggak-lenggok di atas catwalk, mulai anak-balita sampai wanita lansia. Jarang terdengar, atau tidak pernah sama sekali : peringatan Hari Kartini membahas KitabTafsir Karya KH Soleh Darat.

Kontroversi Status Istri Pejabat dan Poligami. Fakta sejarah yang tak terbantahkan adalah Kartini merupakan istri keempat dari Bupati Rembang. Bagi sebahagian pihak, hal ini dianggap kontradiktif dengan semangat emansipasi yang ia suarakan. Namun, jika dilihat dari kacamata negosiasi politik, Kartini menggunakan statusnya untuk mendapatkan legitimasi mendirikan sekolah. Ia mengajukan syarat progresif kepada calon suaminya—sebuah bentuk perlawanan di dalam sistem yang sangat patriarki pada masanya.

Kontroversi emansipasi pendidikan. Apakah sudut pandang itu, dapat mendasari bahwa Kartini pejuang Emansipasi Pendidikan, tidak. Karena ada tokoh wanita lain yang lebih berprestasi, tidak hanya menuntut tetapi sekaligus mewujudkan pendidikan perempuan, seperti tokoh Sunda (Garut) semasa Kartini : Lasminingrat (1843-1948) dan Dewi Sartika (1884-1947), Di Sulawesi Utara ada Maria Walanda Maramis (1872-1924)

Tuduhan Pengaruh Asing dan Framing Kolonial. Ada pula sudut pandang yang melihat popularitas Kartini tak lepas dari korespondensinya dengan tokoh-tokoh Belanda, termasuk Stella Zeehandelaar. Hal ini memicu spekulasi mengenai dominasi narasi Barat dalam menentukan siapa yang layak menjadi pahlawan di Indonesia. Apakah Kartini “dijual” oleh kolonial karena pemikirannya dianggap lebih bisa diterima dibandingkan perlawanan bersenjata?

Identitas yang Tersembunyi : Sang Murid Kiai

Satu poin yang paling sering diperdebatkan saat ini adalah penggambaran visual Kartini. Selama ini, Kartini ditampilkan tanpa kerudung, identik dengan sanggul bangsawan Jawa. Banyak pihak meyakini bahwa sebagai Muslimah yang taat dan murid dari ulama besar Kiai Sholeh Darat, Kartini memiliki sisi religiusitas yang lebih dalam dari sekadar busana adat.

Hubungannya dengan Kiai Sholeh Darat-lah yang melahirkan istilah legendaris “Minadz-dzulumaati ilan-nuur” atau “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Ada dugaan bahwa sejarah visual Kartini telah dipoles sedemikian rupa untuk menjauhkannya dari identitas keislaman yang kuat, sebuah upaya “sekularisasi” tokoh lebih menonjol. Namun dua media popular, Kumparan dan Kompas menggolongkan Kartini Berkerudung dan Berkacamata adalah HOAX. Sementara dari ahli sejarahwan Islam, belum ada upaya menggali bukti-bukti visual saat itu.

Kesimpulan

Memperingati Hari Kartini seharusnya tidak lagi sekadar urusan busana. Kita perlu melihat Kartini secara utuh : seorang perempuan yang bergulat dengan dilema adat dan Islam. Berani bernegosiasi dengan kekuasaan, dan seorang pencari kebenaran spiritual. Menghargai Kartini bukan berarti mengecilkan pahlawan perempuan lainnya, melainkan mengakui bahwa perjuangan kemerdekaan memiliki banyak wajah—baik itu lewat senjata, pendidikan, maupun ketajaman pena.

Tentu, bagian tersebut bisa kita pertajam dengan menyoroti bagaimana kolonialisme tidak hanya menjajah fisik, tapi juga menjajah narasi. Kita akan menonjolkan kesan bahwa Kartini “dipilih” oleh Belanda karena dianggap lebih “jinak” dan sesuai dengan agenda politik mereka.

Barat Sentris : Kartini dalam Cengkeraman Narasi Penjajah

Satu kritik paling tajam yang sering terlupakan adalah bagaimana sejarah Indonesia sering kali ditulis melalui kacamata kolonial. Popularitas Kartini yang menjulang dibanding pahlawan wanita lainnya memicu kecurigaan adanya upaya “cherry-picking” atau pemilihan tokoh secara sepihak oleh Belanda.

Mengapa Kartini? Karena bagi pemerintah kolonial, Kartini adalah sosok yang “bisa diterima”. Ia fasih berbahasa Belanda, berkorespondensi dengan elite intelektual di Eropa (termasuk Stella Zeehandelaar), dan pemikirannya tentang “Pendidikan” sejalan dengan kebijakan Politik Etis yang sedang digaungkan Belanda saat itu. Dengan mengangkat Kartini, penjajah seolah ingin menunjukkan bahwa peradaban mereka berhasil “mencerahkan” pribumi melalui literasi Barat.

Ini adalah bentuk dominasi epistemik. Ada kesan bahwa sejarah sengaja menjauhkan sorotan dari pahlawan perempuan yang mengangkat senjata atau yang berbasis pada kekuatan Islam militan, karena mereka dianggap lebih berbahaya dan tidak bisa “dijinakkan” secara narasi. Kartini ditampilkan dalam bingkai yang sekuler dan kebarat-baratan, sementara jejak spiritualitasnya sebagai murid Kiai Sholeh Darat sengaja dikesampingkan. Karya Kitab Tafsir “Tafsir Al-Quran Faidurrohman atas Usulan RA Kartini”,  diabaikan.

Dampaknya, sejarah yang kita pelajari hari ini mungkin adalah versi “Kartini” yang sudah disaring oleh kepentingan orientalis—sebuah upaya halus untuk menafsirkan kemajuan bangsa hanya bisa terjadi jika kita mengikuti Pola pikir Barat Sekuler, adapun Nilai Keislaman yang begitu legend pun diremehkan : dikaburkan dan dikuburkan. Sembari perlahan mengubur identitas asli dan semangat perlawanan fisik yang lebih radikal terhadap penjajah. Sayangnya hari ini, pemerintah melalui aspek pendidikan menghadirkan Kartini sebagai Pejuang EmansipasiSekuler, minus potret  kegelisahan spiritual Kartini sesungguhnya. (MUH).

lion parcel