alfaone 1
OPINI  

Media Sosial dan Ilusi Pertemanan : Ketika Persahabatan Digital Menjadi Celah Kejahatan Siber Oleh : M. Umar Husein, Salah seorang MMI (Master Mentor Indonesia) untuk keamanan siber

Media Sosial dan Ilusi Pertemanan :

Ketika Persahabatan Digital Menjadi Celah Kejahatan Siber

Oleh : M. Umar Husein,

Salah seorang MMI (Master Mentor Indonesia) untuk keamanan siber

Kemajuan teknologi digital telah mengubah cara manusia berinteraksi. Media sosial membuat komunikasi lintas negara dan budaya menjadi sangat mudah. Dalam hitungan detik seseorang dapat berkenalan, bertukar cerita, bahkan membangun hubungan emosional dengan orang yang belum pernah ditemui secara langsung.

Namun kemudahan ini juga menghadirkan sisi gelap. Di balik hubungan yang tampak akrab di dunia maya, sering tersembunyi manipulasi yang berujung pada kejahatan siber. Fenomena ini dikenal sebagai romance scam, yaitu penipuan yang memanfaatkan kedekatan emosional melalui media sosial.

Ilusi kedekatan digital membuat banyak orang merasa memiliki hubungan yang nyata, padahal identitas yang mereka percayai bisa saja hanyalah rekayasa. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus semacam ini meningkat seiring dengan melonjaknya jumlah pengguna internet di Indonesia.

Ledakan Pengguna Internet dan Kerentanan Baru

Indonesia termasuk negara dengan pertumbuhan pengguna internet yang sangat pesat. Survei dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet Indonesia pada 2024 telah mencapai lebih dari 215 juta orang, atau sekitar 78 persen dari total populasi.

Sebagian besar pengguna tersebut aktif di berbagai platform media sosial seperti Instagram, Facebook, TikTok, dan aplikasi percakapan. Intensitas interaksi digital yang tinggi ini menciptakan ruang sosial baru yang sangat luas.

Namun ruang digital juga menghadirkan risiko. Menurut laporan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Indonesia setiap tahunnya menghadapi ratusan juta hingga miliaran anomali trafik siber, termasuk upaya penipuan dan pencurian data.

Kejahatan siber tidak lagi terbatas pada peretasan sistem komputer, tetapi juga menyasar psikologi pengguna internet melalui manipulasi hubungan sosial.

Ilusi Kedekatan dalam Hubungan Digital

Media sosial memberi kesan bahwa hubungan yang terjalin di internet sama nyata dengan hubungan di dunia fisik. Percakapan yang intens, berbagi foto, dan komunikasi harian dapat menimbulkan rasa kedekatan emosional.

Namun para peneliti komunikasi digital menekankan bahwa hubungan daring sering kali menciptakan “persepsi kedekatan semu”. Individu merasa mengenal seseorang secara mendalam padahal identitas yang ditampilkan mungkin tidak sepenuhnya asli.

Fenomena ini menjadi celah bagi pelaku kejahatan siber. Mereka memanfaatkan kebutuhan manusia akan perhatian dan empati untuk membangun kepercayaan secara bertahap.

Setelah kepercayaan terbentuk, pelaku mulai menjalankan skenario penipuan, biasanya dengan alasan keadaan darurat, investasi atau rencana pertemuan yang membutuhkan biaya tertentu.

Modus Penipuan yang Semakin Canggih

Banyak kasus penipuan hubungan online mengikuti pola yang relatif sama.

Pertama, pelaku membuat profil palsu menggunakan foto orang lain yang tampak meyakinkan, misalnya tentara, dokter, atau pengusaha.

Kedua, pelaku membangun komunikasi intens dengan korban. Mereka memberikan perhatian yang konsisten, memuji korban, dan sering mengungkapkan perasaan secara emosional.

Ketiga, setelah hubungan terasa dekat, pelaku mulai meminta bantuan finansial dengan berbagai alasan.

Menurut laporan keamanan siber global, kerugian akibat romance scam secara internasional telah mencapai lebih dari satu miliar dolar AS setiap tahun. Angka ini menunjukkan bahwa penipuan berbasis relasi emosional merupakan salah satu bentuk kejahatan siber yang paling berkembang saat ini.

Potret Kasus di Indonesia

Di Indonesia sendiri, kasus penipuan berkedok hubungan pribadi sering dilaporkan kepada aparat penegak hukum.  Data dari Kepolisian Negara Republik Indonesia menunjukkan bahwa banyak laporan masyarakat terkait penipuan daring berasal dari perkenalan di media sosial.

Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo) juga kerap mengingatkan masyarakat tentang meningkatnya modus penipuan digital, termasuk penipuan investasi, phishing, dan penipuan berbasis relasi personal.

Banyak korban baru menyadari bahwa mereka ditipu setelah mengirimkan sejumlah uang atau data pribadi kepada pelaku yang ternyata tidak pernah benar-benar ada.

Masalahnya, sebagian korban memilih untuk tidak melapor karena merasa malu atau takut disalahkan. Hal ini membuat jumlah kasus yang sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar daripada yang tercatat secara resmi.

Faktor Psikologis Korban

Kejahatan berbasis hubungan emosional tidak selalu menyasar orang yang kurang berpendidikan atau tidak memahami teknologi.

Sebaliknya, banyak korban justru berasal dari kalangan profesional yang aktif di media sosial. Penelitian kriminologi digital menunjukkan bahwa keberhasilan modus ini lebih banyak bergantung pada manipulasi psikologis dibandingkan kelemahan teknis.

Beberapa faktor yang sering dimanfaatkan pelaku antara lain :

kesepian sosial
kebutuhan akan perhatian emosional
rasa empati yang tinggi
kepercayaan yang terlalu cepat kepada identitas online

Pelaku memanfaatkan faktor-faktor tersebut untuk membangun kedekatan yang terasa autentik, padahal sebenarnya merupakan strategi manipulasi.

Pentingnya Literasi Keamanan Digital

Menghadapi meningkatnya ancaman kejahatan siber, literasi digital menjadi kebutuhan yang sangat penting.

Pakar keamanan siber menekankan bahwa pengguna internet perlu memiliki kesadaran bahwa tidak semua identitas di dunia maya dapat dipercaya.

Beberapa langkah sederhana untuk melindungi diri antara lain :

tidak mudah mempercayai orang yang baru dikenal di internet
memverifikasi identitas melalui berbagai sumber
tidak mengirim uang kepada orang yang belum pernah ditemui
menjaga kerahasiaan data pribadi di media sosial

Selain itu, edukasi keamanan digital perlu diperkuat melalui keluarga, sekolah, dan berbagai program literasi digital nasional.

Penutup

Media sosial pada dasarnya diciptakan untuk mempererat hubungan antarmanusia. Namun di era digital, kedekatan yang tercipta secara virtual dapat menghadirkan ilusi yang menipu.

Fenomena romance scam menunjukkan bahwa hubungan online dapat menjadi pintu masuk bagi manipulasi emosional dan penipuan finansial. Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa kedekatan digital tidak selalu mencerminkan hubungan yang autentik.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, kewaspadaan, literasi digital, dan kemampuan berpikir kritis menjadi benteng utama untuk melindungi diri dari berbagai bentuk kejahatan di ruang siber. (*)

*) Penulis, salah seorang MMI (Master Mentor Indonesia) untuk keamanan siber

lion parcel