Duka Umat Syiah: Ketika Marja
Kami Syahid,
Oleh
Dr M Zailani, Ketua PW IJABI Sumsel 2008 – 2016
Bagi umat Syiah, kabar gugurnya seorang marja bukan sekadar berita politik. Ia adalah luka spiritual yang menyentuh lapisan terdalam iman. Seorang marja bukan hanya ulama; ia adalah pewaris ilmu para Imam Ahlulbait, penunjuk arah moral bagi umat, dan simbol keberanian menghadapi kezaliman. Karena itu ketika seorang marja gugur, yang terasa bukan hanya kehilangan seorang pemimpin, tetapi seakan sejarah para Imam Ahlulbait kembali terulang.
Dalam pandangan banyak pengikut Syiah, kehidupan dan perjuangan Rahbar mencerminkan jejak para Imam Ahlulbait yang selalu menghadapi tipu daya, kekerasan, dan kekuasaan yang zalim.
Ia mengingatkan umat pada Imam Ali bin Abi Thalib, pemimpin pertama Imam Ahlulbait yang menghadapi tipu daya politik di Perang Shiffin. Saat itu Muawiyah menggunakan berbagai strategi untuk memecah barisan umat. Imam Ali tetap teguh mempertahankan keadilan meskipun jalan yang ditempuh penuh pengkhianatan. Akhir hidupnya pun menjadi simbol pengorbanan: beliau syahid saat sedang berdiri dalam shalat di masjid Kufah.
Dalam ingatan umat Syiah, kematian seorang pemimpin yang tetap menjalankan tugasnya hingga saat terakhir adalah gema dari peristiwa itu. Seperti Imam Ali yang gugur saat beribadah, seorang pemimpin yang tetap berada di tengah tanggung jawabnya bersama para pemimpin dan rakyatnya, menjadi simbol bahwa pengabdian kepada umat tidak berhenti bahkan di hadapan maut.
Namun sejarah Ahlulbait juga mengajarkan keberanian yang lebih besar lagi melalui Imam Husain bin Ali. Di Karbala, Imam Husain berdiri menghadapi kekuasaan Yazid yang dianggap mewakili arogansi penguasa. Ia tidak memilih keselamatan pribadi. Ia tidak bersembunyi. Ia berjalan bersama keluarga dan sahabatnya menuju sebuah jalan yang ia tahu berujung pada pengorbanan.
Bagi umat Syiah, keberanian untuk tetap berada bersama rakyat, tidak lari dari tanggung jawab, tidak bersembunyi dalam bunker, dan bersuara melawan ketidakadilan selalu mengingatkan pada Karbala. Dalam kesadaran spiritual Syiah, setiap zaman memiliki “Karbala”-nya sendiri, sebuah panggung di mana manusia harus memilih antara kebenaran dan keselamatan diri.
Jejak pengorbanan itu juga mengingatkan pada Imam Musa al-Kazim, yang dipenjara bertahun-tahun oleh khalifah Abbasiyah Harun al-Rasyid karena keteguhannya menolak tunduk pada kekuasaan yang zalim. Imam Musa akhirnya wafat sebagai syahid dalam penjara, namun kesabarannya menjadikannya simbol keteguhan iman di tengah penindasan.
Sementara dari sisi karakter, banyak Syiah melihat teladan Imam Ali al-Ridha, seorang Imam yang mengetahui bahwa kekuasaan politik pada akhirnya akan menyingkirkannya. Ketika dipanggil ke istana khalifah Al-Makmun, Imam Ridha memahami bahwa jalan yang ditempuhnya mungkin berujung pada kematian. Namun ia tetap melangkah, tetap berdialog, tetap menyampaikan kebenaran, dan tidak menghentikan ikhtiarnya meskipun bahaya telah terlihat di depan mata.
Bagi umat Syiah, kisah para Imam bukan sekadar sejarah, tetapi peta moral. Setiap generasi membaca kembali kisah itu untuk memahami makna keberanian, kesabaran, dan kesetiaan pada prinsip.
Karena itu ketika seorang marja gugur, umat tidak hanya merasakan duka. Mereka juga merasakan bahwa sejarah Ahlulbait kembali hidup. Dalam kesedihan itu ada keyakinan bahwa pengorbanan tidak pernah sia-sia.
Seperti yang diajarkan oleh ayat Al-Qur’an yang sering dibaca dalam majelis duka:
“Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; mereka hidup di sisi Tuhan mereka dan diberi rezeki.” (QS. Ali Imran: 169)
Bagi umat Syiah, para syuhada tidak pernah benar-benar pergi. Mereka menjadi cahaya yang menuntun generasi berikutnya untuk tetap berdiri di sisi kebenaran, sebagaimana para Imam Ahlulbait telah melakukannya sepanjang sejarah.









