Zohran Mamdani: Ketika Sosialisme Menemukan Rumah di New York, Nafi’atul Ummah, Staff R&D International Politics Forum
Dari Kampala ke Queens, perjalanan Zohran Mamdani bukan sekedar lintasan geografis, melainkan ziarah ideologi. Dari dunia yang dijajah menuju jantung kekuasaan kapitalisme global, Mamdani membawa bekal paling berharga dari pinggiran: keyakinan bahwa keadilan sosial bukan utopia, tetapi akal sehat yang lama kita abaikan.
Di tengah era ketika politik direduksi menjadi strategi dan pencitraan, Mamdani mengingatkan bahwa politik sejatinya adalah ruang empati dan perlawanan terhadap ketimpangan.
Di jalanan Queens, New York, pada musim panas yang riuh tahun 2024, Mamdani berdiri di atas truk kecil, berbicara dengan pengeras suara yang kadang berderak. “Housing is not a commodity, it’s a right!” katanya lantang. Kalimat itu sederhana, tapi revolusioner.
Di kota yang memperlakukan apartemen seperti saham, dan menjadikan tempat tinggal sebagai arena spekulasi kapital. Bagi banyak orang muda Amerika yang tumbuh dalam bayang-bayang hutang kuliah dan harga sewa absurd, kalimat itu bagaikan nafas segar.
Di saat Partai Demokrat terjebak di antara idealisme sosial dan pragmatisme pasar, muncul generasi politisi baru sepertiAlexandria Ocasio-Cortez, Ilhan Omar, Rashida Tlaib, dan Zohran Mamdani. Merekalah yang mengembalikan politik pada maknanya semula yakni memperjuangkan yang tertindas, bukan yang berkuasa.
Mamdani tidak datang dari tradisi elite Wall Street. Ia datang dari lorong-lorong diaspora. Dari keluarga yang mengerti arti terusir, berpindah, dan membangun ulang identitas. Di situlah tesis utamanya: ia bukan hanya politisi muda, tetapi simbol politik harapan dari pinggiran, yang menantang mitos “American Dream” dari dalam sistemnya sendiri.
Akar Ideologi dan Identitas
Lahir di Kampala, Uganda, pada 1991, Zohran adalah anak dari dua dunia. Ayahnya, Mahmood Mamdani, seorang intelektual Afrika keturunan India yang menulis Citizen and Subject (1996) karya monumental tentang bagaimana kolonialisme melahirkan logika kekuasaan modern. Ibunya, Mira Nair, sutradara film Salaam Bombay! (1988) dan The Namesake (2006) yangmembawa semangat humanisme lintas budaya.
Dari ayahnya, Zohran belajar membaca sejarah. Dan dari ibunya, ia belajar melihat manusia di balik statistik. Zohran belajar bahwa sejarah adalah sesuatu yang hidup di tubuh manusia. Di kulit yang berbeda warna, di aksen yang tidak standar, di rasa takut ketika polisi lewat di malam hari. Iamemahami bahwa kolonialisme tidak pernah benar-benar berakhir. Kolonialisme hanya berganti kostum. Dari penjajahan militer menjadi dominasi pasar, dari rantai besi menjadi utang, sewa, dan jam kerja tanpa henti.
Seperti yang ditulis Frantz Fanon dalam Black Skin, White Masks (1952), kolonialisme bukan hanya soal penjajahan fisik, tapi juga penjajahan imajinasi. Mamdani muda memahami itu: bahwa perjuangan melawan rasisme dan ketimpangan bukan soal moralitas semata, melainkan melawan struktur yang menguntungkan segelintir orang dan menindas mayoritas.
Ketika Mamdani berbicara tentang “hak atas rumah,” iasesungguhnya sedang menantang logika kapitalisme yang menjadikan tempat tinggal sebagai alat akumulasi, bukan ruang hidup. Di sinilah ia bersinggungan dengan gagasan Henri Lefebvre dalam Le Droit à la Ville (1968) tentang right to the city: bahwa kota seharusnya dimiliki oleh mereka yang menciptakan kehidupannya bukan oleh mereka yang membelinya.
Dari Aktivisme ke Politik Elektoral
Mamdani adalah bukti bahwa politik bisa menjadi ruang etika, bukan sekadar arena transaksional. Sejak menjabat sebagai anggota Assembly Negara Bagian New York (Distrik 36, Queens), ia menjadi wajah baru politik akar rumput. Ia menolak dana korporasi, memperjuangkan Good Cause Eviction Billyang melindungi penyewa dari penggusuran, dan mendukung gerakan Ceasefire Now untuk menghentikan pembantaian di Gaza.
Baginya, perjuangan perumahan dan solidaritas terhadap Palestina lahir dari akar yang sama yakni penolakan terhadap logika yang menganggap manusia bisa dipindah, diusir, dan didevaluasi demi keuntungan segelintir orang. “We are not radicals. We are realists in a world built on inequality,” katanya dalam salah satu pidatonya. Pernyataan ini mengingatkan kita pada Antonio Gramsci yang menulis dalam Prison Notebooks(1929): “Pessimism of the intellect, optimism of the will.”
Sebagai bagian dari diaspora Muslim-Afrika-Asia di Amerika, Mamdani membawa posisi yang unik. Ia berbicara dari pinggiran, namun dengan bahasa pusat. Dalam dirinya, “diaspora” bukan identitas, melainkan posisi epistemik caramemandang kekuasaan dengan jarak kritis. Seperti ditulis Frantz Fanon dalam The Wretched of the Earth (1961), kolonialisme tidak hanya menaklukkan tanah, tetapi juga cara kita berpikir tentang apa yang layak dan tidak. Mamdani menolak itu. Iamemilih berpikir dari bawah, dari mereka yang tidak punya pilihan kecuali bertahan dan harapan yang harus diorganisir, bukan ditunggu.
Diaspora sebagai Posisi Politik
Zohran Mamdani melihat identitas diaspora bukan sebagai nostalgia masa lalu, melainkan sebagai posisi politik yang unik.Dalam wawancaranya dengan Jacobin Magazine, ia menyebut bahwa orang-orang diaspora hidup dengan kesadaran ganda. Maksudnya, mereka tahu rasanya menjadi bagian dari system, sekaligus tahu rasanya dikeluarkan darinya.
Konsep ini mengingatkan pada teori double consciousness W.E.B. Du Bois dalam bukunya berjudul The Souls of Black Folk (1903) “It is a peculiar sensation, this double-consciousness, this sense of always looking at one’s self through the eyes of others, of measuring one’s soul by the tape of a world that looks on in amused contempt and pity.”
Konsep double consciousness menggambarkan bagaimana seseorang dari diaspora atau minoritas melihat dirinya sendiri sekaligus sebagai bagian dari sistem dan sebagai yang tertindas. Ini relevan dengan posisi Mamdani sebagai anak diaspora yang berbicara dari “pinggiran” sistem kekuasaan.
Mamdani menggunakan posisi ganda ini untuk membangun solidaritas transnasional. Ia tidak hanya memperjuangkan hak perumahan untuk penyewa di Queens, tetapi juga mengangkat isu penggusuran paksa di Sheikh Jarrah, Yerusalem. Misalnya, ketika banyak politisi enggan bersuara tentang Palestina, Mamdani tegas mengecam kekerasan terhadap warga Palestina.Menurut laporan Jacobin, ia menolak “loophole Palestina” dalam nilai universal, dengan “menegaskan kemanusiaan warga Palestina” sambil mempertahankan kesadaran kelas di New York.
Mamdani bukan sekedar redistribusi materi, melainkan etika empati lintas batas, menghubungkan perjuangan pekerja kulit warna di New York dengan rakyat Palestina yang berjuang mempertahankan rumah mereka.
Politik Moral dan Imajinasi Keadilan: Ketika Harapan Punya Arah
Mengutip dalam buku The Utopia of Rules: On Technology, Stupidity, and the Secret Joys of Bureaucracy (2015), David Graeber “The ultimate, hidden truth of the world is that it is something that we make, and could just as easily make differently.”
Kutipan ini mengajak kita untuk melihat bahwa struktur (kapitalisme, birokrasi) tidak alamiah, bisa diubah. Mamdani sebagai politisi sosialis muda menggunakan pandangan ini untuk membayangkan ulang kota (New York) sebagai tempat keadilan, bukan hanya pasar.
Ia berbicara terang-terangan tentang sosialisme di Amerika, negara yang sering menganggap kata itu tabu. Misalnya, dalam pidato kemenangannya Mamdani dengan bangga menyatakan “I am Muslim. I am a democratic socialist. And most damning of all, I refuse to apologize for any of this.” Kalimat ini menggambarkan keberanian Mamdani melepaskan malu sosialisme menjadi sebuah nilai yang baginya adalah warisan kemanusiaan, bukan ide asing.
Sosiolog Angela Davis pernah berkata bahwa perjuangan kelas tak bisa dipisahkan dari perjuangan melawan rasisme, seksisme, dan kolonialisme. Dalam semangat inilah Mamdani bekerja. Iamembangun imajinasi keadilan publik dengan mata terbuka lebar (pesimisme akal) sambil menegakkan optimisme kehendak untuk bertindak.
Seperti langkah politik Gramsci, “pessimism of the intellect, optimism of the will.” Ia sadar dunia keras, tapi harapan harus diorganisir, bukan ditunggu. Maka ia menolak politik simbolik tanpa perubahan nyata: “Representation without redistribution is decoration.”
Mamdani mengubah politik menjadi etika keseharian dan keberanian untuk peduli. Ia hidupkan kembali pemikiran Karl Marx dalam Theses on Feuerbach (1845) “Die Philosophen haben die Welt nur verschieden interpretiert; es kömmt drauf an, sie zu verändern.”
Kutipan ini menjadi inti praksis politik Mamdani. Bahwa teori tanpa tindakan hanyalah wacana kosong. Bagi dia, sosialisme bukan sekadar ide, melainkan etika keberpihakan, upaya terus-menerus untuk “mengubah dunia,” bukan hanya menafsirkannya.
Mamdani mengembalikan politik pada akar moralnya, yaknikeberanian untuk peduli, berpihak, dan berimajinasi tentang dunia yang lebih adil. Bahkan di jantung kapitalisme dunia.








