oleh

Wakajati Ingin Sumsel Jadi ‘WBK’ Tampung Informasi Wartawan

Palembang,Extranews – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Selatan (PWI) kembali menggelar diskusi Ngopi (Ngobrol Pintar) di kantor PWI, di Jalan Supeno, Kamis (30/1). Dengan tema “Perspektif Outlook Hukum di Sumsel 2020”, Ngobrol Pintar kali ini dihadiri Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Sumatera Selatan (Sumsel), Oktovianus SH MH.

 

Suasana jalanya diskusi NgobrolPintar (NGOPI) PWI Sumsel

Wakajati Oktovianus, memberikan apresiasi acara diskusi yang diinisiasi oleh PWI Sumsel, selain menjadi ajang silaturahmi kegiatan ini menurutnya juga menjadi ‘pintu’ untuk berkomunikasi dan koordinasi ke depan antara para jurnalis dan pihak Kajati Sumsel.
“Saya sangat berterima kasih dengan teman-teman wartawan, saya juga berkeinginan jika ada permasalahan-permasalahan atau ingin berkomunikasi maupun berkoordinasi dengan saya, dipersilahkan”, katanya.

Oktovianus menegaskan bahwa Kejaksaan Agung dalam melaksanakan tugasnya tidak hanya memberantas tindakan korupsi, tetapi lebih dari itu dengan menjadikan wilayah bebas korupsi (WBK). “Kejaksaan Agung ingin Kejati menciptakan wilayah bebas korupsi,” kata Oktovianus.

 

Sementara ditempat yang sama Ketua PWI Sumsel, Firdaus Komar mengucapkan terima kasih atas kehadiran Wakajati Sumsel ke Sekretariat PWI Sumsel. Menurutnya, dengan adanya silaturahmi dan diskusi ini, ke depan wartawan bisa memperkuat kemitraan dan juga memberikan dampak positif bagi penegakan hukum di Sumatera Selatan dan Sekitarnya Tetap di Perhatikan

Firdaus juga mengapresiasi kinerja Kejaksaan Agung RI terkait pengungkapan kasus Jiwasraya. “Dan dalam perspektif kejaksaan agung, yang kita lihat terakhir ini luar biasa, kita apresiasi sekali terkait pengungkapan kasus Jiwasraya, ini memberikan harapan bagi masyarakat” katanya.

Sementara dalam sesi tanya jawab wartawan senior Harian Neraca Helmi Marsindang memberi catatan agar Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan benar-benar membuat Sumatera Selatan bersih dari korupsi, termasuk dana desa yang banyak diselewengkan.

” Pak Wakajati kini ada fenomena menarik seiring digulirkannya dana desa, bahwasanya dana desa ini banyak yang dikorupsi, apa lagi korupsi bagi mereka dianggap sebagai sebuah jalan mencari rezeki. Jadi Kejaksaan saya kira juga perlu fokus kesana karena dananya tidak sedikit,” tegasnya.

Ditambahkan wartawan yang memiliki ciri khas rambut gondrong ini bahwa Kejaksaan Tinggi tidak boleh main-main dalam menangani kasus, harus fear dan terbuka. Helmi mengungkapkan kekecewaanya ketika dirinya pernah menginformasikan sebuah kasus yang ternyata berkasnya hilang.

“Pernah suatu ketika saya menginformasikan sebuah masalah kepada pihak Kejaksaan Tinggi tapi entah kenapa kata penyidik berkasnya itu hilang, ini kan lucu. Nanti saya serahkan daftar laporan dan kasus-kasus yang belum terselesaikan di Sumatera Selatan usai acara ini,” Jelas Helmi kecewa. prapt

Komentar