alfaone 1
CERPEN  

Mesin Ketik, Oleh Firko, Wartawan dan Dosen

Mesin Ketik

Oleh,  Firko

Wartawan dan Dosen

 

ExtraNews – Karena istri  harus melanjutkan kuliah Magister ke luar kota, saya dan istri, mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk pindah. Bayangkan, dari Kota Palembang ke Kota Padang.

Saya mendukung penuh keputusan istri. Tapi rasa khawatir dan cemas tetap memenuhi kepala. Apalagi anak pertama kami baru berusia 8 bulan, masih belum memahami perjuangan kami, masih bau ASI.

“Piring, gelas, sendok, alat-alat makan bawa,” ujar Emak sambil memasukkan ke kardus. . “Di rantau, kita tidak tahu, lapar tidak bisa nunggu.”

Ya, semua perabot yang kira-kira dibutuhkan kami bawa. Belum terbayang tiba di Kota Padang. Tempat kontrakan saja belum jelas. Mau ke mana, belum tahu. Yang jelas, kami harus berangkat.

Di tengah tumpukan kardus-kardus, ada satu benda yang menurut kami paling penting: mesin ketik  tua, waktu itu saya beli dari teman di Asrama mahasiswa, waktu kuliah S1. Tutupnya lecet dan retak sedikit, tapi tuts-nya masih garing kalau ditekan. Waktu saya tugas sebagai wartawan di daerah jadi andalan menjalankan tugas jurnalistik.

“Mesin tik lama, tapi masih bagus. Bawa saja ke Padang. Pasti banyak tugas kuliah nantinya,” ujar saya  sambil mengelap debunya. Mata istri pun penuh rencana dengan mesin tik itu.

Dengan penuh perjuangan, sambil mengurus bayi 8 bulan, kami naik bus Palembang–Padang. Anak digendong bergantian. Kalau dia rewel, seluruh bus ikut terjaga. Kalau dia tidur, kami baru bisa napas. Sepanjang jalan pikiranku berkecamuk: Bagaimana kalau dia sakit? Bagaimana kalau uang tidak cukup?

Semalaman di bus Yoanda, badan pegal dan kepala pening, akhirnya kami tiba di Terminal Kota Padang. Pagi masih basah. Barang bawaan diturunkan seperti pindahan rumah beneran. Kami sewa angkot menuju rumah yang rencananya mau dikontrak.

Sampai di depan rumah, barang diangkut satu-satu. Anak menangis karena gerah. Istri menenangkan sambil menyusui di teras. Setelah semua masuk dan pintu ditutup, aku duduk bersandar ditumpukan barang barang. Baru lega sebentar.

Lalu tersentak.

Jantungku jatuh.

“Di mana mesin ketik?”

Keringat dingin seketika muncul. Kucari di kolong meja, di balik karung, di luar pintu. Tidak ada. Benda sebesar itu, warna hitam, tidak mungkin tak kelihatan.

Istri menatapku. Wajahnya pucat. “Mungkin… ketinggalan di angkot tadi,” bisiknya. Suaranya bergetar bukan marah, tapi takut. Takut pada apa artinya kehilangan itu.

Aku berlari ke jalan, tapi angkot sudah hilang ditelan belokan. Tidak ada nomor, tidak ada nama sopir. Hanya debu. Aku kembali dengan tangan kosong. Kami saling diam. Di lantai, anak kami tidur tidak tahu bahwa satu mimpi kami baru saja tercecer di jalan.

Malam itu kami tidur beralaskan dengan kondisi seadanya, ada kasur tipis. Tapi yang paling mengganjal bukan lantai yang keras beralaskan kasur tipis. Melainkan rasa kehilangan itu. Rasanya seperti memberangkatkan istri perang tanpa senjata.

Besoknya, tidak ada pilihan. Uang yang sudah diplot untuk beras sebulan, buku, dan uang pangkal, terpaksa dicuil. Kami ke Toko Gramedia di pusat kota. Bau toko buku itu wangi, tapi dompet kami ciut.

Di etalase, mesin ketik baru berjejer rapi. Mengkilat. Harganya membuat napasku tertahan.

“Mau cari yang mana, Pak?” tanya mbak penjaga, ramah.

“Yang… paling murah, Mbak,” jawabku pelan. Malu, tapi butuh.

Istri menggenggam tanganku. “Yang penting bisa buat ngetik tugas, Kak. Ndak apa-apa baru.”

Mbak itu mengangguk, paham. Diambilkannya satu yang paling kecil, bodinya plastik, bukan besi. “Ini, Pak. Merek Kofa. Bekas display, jadi bisa kurang sedikit.”

Aku melihat banderolnya. Lalu melihat istri yang menggendong anak. Lalu melihat masa depan yang sedang kami cicil.

“Ya sudah, Mbak. Kami ambil.”

Saat kasir menghitung uang, tanganku gemetar. Itu uang makan kami. Tapi istri menatapku dan tersenyum. “Mesin ketik bisa dibeli lagi. Kesempatan kuliah belum tentu, Kak”

Mesin ketik baru itu kami tenteng pulang naik angkot. Dingin, belum ada sejarahnya. Belum ada doa-doa Emak di setiap tuts-nya.

Tahun berganti. Tesis istri selesai, di bab ucapan terima kasih ada namaku dan keluarga yang memberi support. Kami pulang ke Palembang. Anak sudah bertambah. Anak pertama telah ada adiknya. Anak kedua Klahir di Kota Padang. Mesin ketik itu masih tersimpan sampai sekarang. Masih di dalam kotak aslinya, jarang dibuka.

Tapi tiap melihatnya, ingatan itu hidup lagi. Tentang bus Yoanda yang berguncang. Tentang bayi 8 bulan yang tidur di pangkuan. Tentang panik kehilangan di kota orang. Tentang kasir Gramedia yang diam-diam memberi diskon. Tentang kalimat istri: “Mesin ketik bisa dibeli lagi. Kesempatan kuliah belum tentu.”

Mesin ketik itu bukan sekadar alat.

Ia saksi. Bahwa perjuangan kadang bentuknya sesederhana merelakan uang beras demi sebuah tuts yang bisa ditekan. Bahwa mendukung itu artinya ikut kehilangan, lalu ikut membeli lagi.

Dan setiap kali kulihat kotaknya, aku ingat: kami pernah setakut itu, tapi kami jalan terus. Tek-tek-tek. @

lion parcel