oleh

Media Mainstream Seharusnya Menjadi Rujukan Publik

Lampung, Extranews — Media mainstream seharusnya menjadi rujukan publik, bukan kebalikannya media sosial justru terkadang menjadi rujukan media arus utama.

 

Demikian disampaikan oleh Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kominfo Usman Kansong, pada acara media Gathering SKK Migas dan FJM di Sheraton Hotel, Bandar Lampung, Selasa (16/11).

Media Gathering dibuka oleh Manajer Humas SKK Migas Perwakilan Sumbagsel Andi Ari Pangeran. Menurut Andi Ari, kegiatan ini rutin dilakukan karena saat ini pandemi Covid, jumlah peserta dibatasi dan mudah-mudahan tahun depan akan dilaksanakan lebih banyak melibatkan peserta sesuai dengan keterwakilan kepesertaan medianya.

Mengapa media mainstream seharusnya menjadi rujukan utama, karena tingkat kepercayaan publik masih tinggi terhadap media mainstream.

Menurut Usman, Indeks kepercayaan publik tahun 2021 dari edelman trust barometer untuk media 72, bussines 79, government  70 dan NGO 68.

Saat ini justru ada gejala-gejala media mainstream merujuk ke media sosial, mestinya medsos yang mengutip media mainstream. Harusnya  sebagai media arus utama yang menjadi rujukan. “Memang perlu konsistensi dari media mainstream, untuk tetap memberitakan dengan isu-isu tidak dari medsos”, jelas Usman.

Apa yang terjadi mengutip medsos, yang dikutip dan kalau kutipan itu salah akibatnya ikut menyebar hoax. Oleh karena itu pada akhirnya dalam pemberitaan harus berpedoman pada prinsip prinsip jurnalisme Bill Kovac. Diantaranya memverifikasi terhadap data sebagai bahan berita.

“Kondisi saat ini kita  berkompetisi dengan medsos dari kecepatan kita kalah, dan siapa pun bisa jadi Wartawan,” urai Usman yang berkarier sebagai wartawan.

Menurut Usman, kondisi saat ini terjadi persaingan dengan media baru, media yang bukan pers namun sebagai konten agregator. Jurnalisme warga, user generated content, menimbulkan persaingan yang kurang berimbang dengan bisnis media pers.

Oleh karena itu, didalam aturan perusahan dilarang wartawan meng-uploud informasi  ke akun medsos sebelum dimuat di media tempatnya bekerja.

Kondisi ini berpotensi  menurunkan kualitas berita dengan tsunami informasi yang tidak memenuhi kaidah jurnalistik. Kemudian terjadi transformasi digital memunculkan banyak jenis media baru yang tidak termasuk dalam ruang lingkup media konvensional.

Media non konvensional tidak diatur dengan regulasi yang mengatur pers konvensional.

Menurut Usman, ciptakan lapangan permainan yang setara, ujar Usman yang mengaku manajemen FB pernah kontak mau ambil konten dari berita . Ini malahan ramai-ramai gunakan FB meng aploud berita justru menyumbang di medsos.

Fiks cost dan variabel cost, sebuah penayangan media memerlukan biaya, kini muncul TV media penyiaran yang besar biaya cost tapi media baru dengan modal ringan dan dapat untung.

“Kita yakin dengan kompetisi sehat akan melahirkan good jurnalisme,” tegas Usman.

Bagaimana cara membedakan informais hoax dan bukan hoax, ada informasi  terlalu baik untuk benar atau terlalu  buruk untuk benar.

Kita harus awas, dan selalu skeptis terhadap informasi yang muncul.

Dalam survei, hanya ada satu orang dari 4 orang yang mengelola informasi yang baik, 3 orang tidak melakukan verifikasi.

Ke depan diperlukan revitalisasi  fungsi media yaitu  edukasi atau informasi, interpretasi, korelasi, persuasi, dengan memakai prinsip prinsip jurnalistik.

Dengan  cara bikin liputan komprehensif yang memberi edukasi. Mengajak masyarakat menahan diri.

Jurnalisme melakukan revitalisasi fungsi media, maka diharapkan publik melek informasi, publik berpartisipasi aktif, dan informasi berimbang.

Media harus konsisten dengan informasi publik, selain itu perlu jurnalisme  interpretasi, sembari berpesan, ujar Usman wartawan buatlah berita hari ini dan ke depan dan buatlah indept report dan bikin berita yang beda atau liputan mendalam. Patuh dan konsisten dengan prinsip prinsip jurnalisme. Fk

Komentar