ExtraNews – Untuk menahan kentut sambil tetap sehat, makanlah perlahan dan hindari makanan serta minuman pemicu gas seperti soda, permen karet, dan beberapa sayuran seperti kol dan brokoli.
“Jika merasa ingin kentut, cari tempat yang lebih pribadi untuk melepaskan gas secara alami atau lakukan gerakan relaksasi ringan untuk membantu meredakan tekanan di perut.
Saat makan dan minum
Makan dan minum perlahan: Hindari menelan terlalu banyak udara saat makan atau minum. Mengunyah dengan mulut tertutup juga dapat membantu.
Hindari makanan pemicu gas: Batasi atau hindari makanan dan minuman yang diketahui menghasilkan banyak gas, seperti minuman bersoda, permen karet, dan sayuran jenis tertentu (kol, brokoli, kembang kol).
Konsumsi porsi kecil: Makan dalam porsi kecil tapi lebih sering dapat membantu mengurangi penumpukan gas di perut.
Perhatikan intoleransi: Jika Anda memiliki intoleransi terhadap produk susu, kurangi atau hindari konsumsinya.
Saat ingin kentut
Cari tempat pribadi: Jika memungkinkan, carilah tempat yang lebih pribadi untuk membiarkan gas keluar secara alami.
Lakukan gerakan ringan: Gerakan seperti pose yoga “happy baby pose” atau memijat perut dapat membantu meredakan tekanan dan mengeluarkan gas.
Coba posisi tidur: Jika Anda merasa kembung di malam hari, coba tidur miring ke kiri atau telentang dengan lutut ditekuk untuk membantu mengeluarkan gas.
Kebiasaan lain yang membantu
Olahraga teratur: Aktivitas fisik secara teratur membantu menjaga kesehatan pencernaan dan mengurangi gas berlebih.
Hindari merokok: Merokok dapat menyebabkan Anda menelan lebih banyak udara, yang meningkatkan frekuensi kentut.
Atur posisi tubuh: Mengubah posisi tubuh bisa membantu. Misalnya, jika Anda merasa akan kentut saat duduk, cobalah berdiri atau mengubah posisi duduk Anda.
Penting untuk diingat
Menahan kentut sesekali tidak masalah selama perut Anda terasa nyaman. Namun, jangan menjadikannya kebiasaan karena bisa berdampak buruk pada kesehatan.
Jika perut kembung berlebihan atau Anda merasa sakit, konsultasikan dengan dokter karena bisa jadi itu gejala dari kondisi medis tertentu. (*)












