alfaone 1

Kredit Melambat, BI Sulbar Soroti Tingginya Ketergantungan Dana dari Luar Daerah

Kredit Melambat, BI Sulbar Soroti Tingginya Ketergantungan Dana dari Luar Daerah

MAMUJU, Extranews  – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Barat mencatat kondisi sistem keuangan daerah pada triwulan I 2026 masih berada dalam kondisi stabil, meski laju pertumbuhan kredit mulai menunjukkan perlambatan di berbagai sektor usaha.

Kepala Deputi Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Barat, Erdi Fiat Gemilang, mengungkapkan perlambatan pertumbuhan kredit sebenarnya telah terjadi sejak 2023, setelah sebelumnya mengalami lonjakan tinggi pada periode 2020 hingga 2022.

Meski kredit melambat, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) justru mencatat tren positif. Pada triwulan I 2026, pertumbuhan DPK mencapai 10,28 persen, mencerminkan peningkatan aktivitas simpanan masyarakat di sektor perbankan.

“Pertumbuhan kredit memang mulai termoderasi, namun stabilitas sektor keuangan daerah masih tetap terjaga,” ujar Erdi dalam paparan SIPAKADA Media, Kamis (8/5/2026).

Dari sisi risiko perbankan, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) Sulbar tercatat berada di level 4,45 persen dan relatif stabil sejak 2023. Sementara Loan at Risk (LAR) berada pada kisaran 11 hingga 13 persen atau mengalami penurunan dibanding periode sebelumnya.

Namun, Bank Indonesia menyoroti tingginya Loan to Deposit Ratio (LDR) yang berada pada kisaran 281 hingga 305 persen. Angka tersebut mengindikasikan bahwa ekspansi kredit di Sulbar masih sangat bergantung pada dukungan pendanaan dari luar daerah karena penghimpunan dana lokal belum mampu menutupi kebutuhan pembiayaan.

Pada sektor korporasi, perlambatan terjadi cukup signifikan. Hingga triwulan I 2026, pertumbuhan kredit korporasi hanya mencapai 1,09 persen secara tahunan atau year on year (yoy), turun jauh dibanding pertengahan 2024 yang sempat tumbuh 11,37 persen.

Kualitas kredit korporasi juga masih menghadapi tekanan. Rasio NPL kredit korporasi tercatat berada di level 7,62 persen dan cenderung stagnan sejak 2023.

“Kondisi ini menunjukkan masih adanya tekanan dan risiko di sektor usaha,” kata Erdi.

Berbeda dengan korporasi, kredit rumah tangga masih tumbuh cukup baik meski mulai melambat. Pada triwulan I 2026, kredit rumah tangga tumbuh 9,61 persen setelah sebelumnya mencapai 11,35 persen pada triwulan IV 2025. Risiko kredit rumah tangga juga dinilai tetap terkendali dengan rasio NPL rendah di level 1,30 persen.

Secara sektoral, penyaluran kredit di Sulawesi Barat masih didominasi sektor pertanian dengan pangsa mencapai 20,50 persen dari total kredit sepanjang 2020 hingga 2025. Sektor perdagangan menyusul di posisi kedua dengan porsi 17,93 persen.

Meski menjadi sektor utama, pertumbuhan kredit pertanian turut mengalami perlambatan menjadi 3,49 persen pada triwulan I 2026. Sementara sektor perdagangan justru mengalami kontraksi hingga minus 10,48 persen, mencerminkan melambatnya aktivitas perdagangan di daerah tersebut.

Di sisi UMKM, Bank Indonesia mencatat total kredit UMKM di Sulbar mencapai Rp7,60 triliun pada triwulan I 2026.Namun angka tersebut mengalami kontraksi sebesar 4,37 persen secara tahunan.
Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga mengalami penurunan menjadi Rp3,77 triliun atau turun 1,91 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara rasio kredit bermasalah UMKM meningkat menjadi 3,91 persen.

Kondisi itu dinilai menjadi perhatian serius bagi industri perbankan agar tetap menjaga kualitas pembiayaan, terutama di tengah perlambatan ekonomi dan menurunnya permintaan kredit dari sektor usaha.

lion parcel