alfaone 1

Ketika Iman Menjadi Sasaran Nafi’atul Ummah, Staf RnD International Politics Forum

Ketika Iman Menjadi Sasaran, 

Oleh Nafi’atul Ummah,  Staf RnD International Politics Forum

Penembakan massal di Pantai Bondi, Sydney, pada 14 Desember2025 mengguncang rasa aman publik Australia. Peristiwatersebut terjadi saat ribuan orang berkumpul dalam acara“Chanukah by the Sea”, perayaan Hanukkah umat Yahudi di ruang terbuka. Dua pria bersenjata melepaskan tembakan kearah kerumunan, menewaskan sedikitnya 15 orang termasukseorang anak serta melukai puluhan lainnya.

Satu pelaku tewas di lokasi, sementara satu pelaku lain ditangkap setelah dilumpuhkan aparat. Otoritas menetapkaninsiden ini sebagai aksi terorisme. Menjadikannya salah satupenembakan massal paling mematikan di Australia dalambeberapa dekade terakhir.

Tragedi ini tidak dapat dipahami sebagai tindak kriminal biasa.Ia adalah kekerasan bermotif kebencian yang menyasaridentitas, iman, dan ruang publik sekaligus. Penembakan di Bondi menjadi peringatan keras bahwa ekstremisme berbasiskebencian tetap hidup. Bahkan di negara demokratis yang selama ini dipersepsikan aman dan stabil.

Teror Berbasis Identitas: Ketika Kebencian MenargetkanSimbol Iman

Dalam kajian kriminologi, penembakan di Bondi lebih tepatdikategorikan sebagai hate crime. Pemahaman ini dijelaskansecara komprehensif oleh Barbara Perry, kriminolog Kanada, dalam bukunya In the Name of Hate: Understanding Hate Crimes (Routledge, 2001). Perry menegaskan bahwa hate crimemerupakan fenomena yang tidak bisa dipahami sebagaikejahatan individual semata. Ia menulis Hate crimes are acts of violence and intimidation, usually directed toward already stigmatized and marginalized groups, intended to reaffirm the hierarchical social order.”
Kutipan ini menunjukkan bahwa kejahatan bermotif kebencianmemiliki kompleksitas sosial dan ideologis yang melampauidefinisi kriminal konvensional. Perry menjelaskan bahwa hate crime berfungsi sebagai alat peneguhan dominasi sosial. Kekerasan dilakukan bukan hanya untuk melukai korbanlangsung, tetapi untuk mengirim pesan bahwa kelompok tertentutidak aman, tidak diinginkan, dan berada di posisi inferior dalamtatanan sosial.

Dalam konteks Bondi, sasaran serangan adalah umat Yahudiyang sedang merayakan Hanukkah. Hanukkah adalah simboliman, tradisi, dan keberlangsungan komunitas Yahudi. Pesanterornya jelas, yakni perayaan suci di ruang publik pun dapatmenjadi sasaran kekerasan. Artinya, serangan ini tidak ditujukanpada individu secara acak, melainkan pada identitas kolektif.Pelaku berupaya menanamkan ketakutan tidak hanya kepadakorban, tetapi kepada seluruh komunitas Yahudi, bahkanminoritas agama secara umum.

Perry juga menekankan bahwa hate crime memiliki dampakpsikologis dan sosial yang jauh lebih luas dibanding kejahatanbiasa. Karena iamenyerang siapa korban itu, bukan apa yang ialakukan.” Inilah sebabnya mengapa penembakan Bondi memicutrauma kolektif dan kecemasan nasional.

Fakta-fakta penyelidikan aparat memperlihatkan bahwaserangan ini dilakukan secara sadar dan terencana. Para pelakudiketahui telah menjalani latihan menembak, melakukanpengintaian lokasi sebelum hari kejadian, serta merekam video manifesto yang terinspirasi ideologi Islamic State in Irak danSuriah (ISIS).

Polisi juga menemukan bahan peledak rakitan di sekitar lokasiyang gagal diledakkan. Semua temuan ini menegaskan bahwapenembakan di Bondi bukan tindakan impulsif, melainkankekerasan ideologis yang dirancang untuk menciptakan efekteror seluas mungkin.

Hal tersebut diperkuat oleh Mark Juergensmeyer, seorangsosiolog agama asal Amerika Serikat dan profesor di University of California, dalam bukunya Terror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violence (2000), yang menjelaskanbahwa terorisme modern sering kali bekerja melalui apa yang iasebut sebagai symbolic violence. Ia menulis “Acts of terrorism are symbolic performances meant to dramatize a struggle perceived as cosmic or absolute.”

Kutipan ini menunjukkan bahwa terorisme tidak sematabertujuan menghancurkan secara fisik, melainkan menciptakanmakna. Kekerasan semacam ini bekerja melalui symbolic violence. Target dipilih bukan karena nilai strategis militernya, melainkan karena makna simboliknya. Acara keagamaan di ruang publik menjadi medium paling efektif untuk menyebarkanketakutan kolektif dan mempertajam logika “kami versus mereka”.

Penting ditegaskan bahwa kekerasan terhadap umat Yahudi tidakmemiliki legitimasi politik, moral, maupun ideologis. Kritikterhadap kebijakan suatu negara tidak pernah dapat dibenarkandengan menyerang warga sipil berdasarkan agama atauidentitasnya. Ketika kritik berubah menjadi dehumanisasi, di situlah kebencian menemukan bentuknya yang paling mematikan.

Demokrasi yang Diuji: Keamanan Minoritas dan TanggungJawab Negara

Penembakan di Bondi juga mengajukan pertanyaan mendasar: sejauh mana negara demokratis mampu melindungi warganya, terutama kelompok minoritas? Dalam kerangka teori keamananmanusia (human security), keamanan tidak hanya diukur daristabilitas negara, tetapi dari rasa aman individu, kebebasan dariketakutan, kekerasan, dan ancaman dalam kehidupan sehari-hari.

Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, mengecamserangan tersebut sebagaiantisemitisme murni dan terorismeserta menyampaikan permintaan maaf kepada komunitasYahudi. Pernyataan ini mencerminkan pengakuan moral negara.Namun, pengakuan saja tidak cukup. Penangkapan sejumlahindividu lain yang diduga memiliki keterkaitan ideologis denganpara pelaku menunjukkan bahwa ancaman ekstremismedomestik bersifat laten dan sistemik.

Demokrasi memang menjamin kebebasan, tetapi kebebasantanpa perlindungan efektif justru menciptakan kerentanan.Tantangan negara demokratis hari ini bukan memilih antarakebebasan atau keamanan, melainkan memastikan keduanyaberjalan beriringan. Ketika warga terutama minoritas tidakmerasa aman beribadah atau berkumpul di ruang publik, makademokrasi kehilangan makna substantifnya.

Per-hari ini melawan terorisme tidak cukup dengan aparat dansenjata. Ia harus menuntut keberanian moral untuk menolakdehumanisasi, ketegasan negara dalam melindungi warganya, serta komitmen publik menjaga ruang bersama tetap manusiawi. Ketika iman menjadi sasaran, yang terancam bukan hanya satukomunitas, melainkan fondasi kemanusiaan dan demokrasi itusendiri. @ 

lion parcel