oleh

Kecewa dengan AUKUS, Prancis Dekati Indonesia, Jajaki Penjualan Jet Tempur Rafale?

ExtraNews – Prancis ingin memperkuat kerja sama dengan Indonesia, termasuk di bidang militer, guna memperkuat kehadirannya di Indo-Pasifik. Agenda itu akan menjadi salah satu bahasan dalam kunjungan Menteri Luar Negeri Jean Yves Le Drian ke Jakarta, Selasa (23/11/2021).

Kunjungan Menlu Le Drian ini berlangsung setelah Prancis kehilangan kontrak pengadaan kapal selam dengan Australia yang beralih ke Amerika Serikat (AS) melalui kemitraan pertahanan AUKUS. Dengan kerja sama tersebut, Australia bisa memproduksi kapal selam nuklir menggunakan teknologi AS dan Inggris.

Kerja sama pengadaan kapal selam antara Prancis dan Australia yang diteken pada 2016 dianggap sebagai landasan kebijakan Indo-Pasifik. Dengan batalnya kesepakatan itu, Prancis tampaknya ingin mengalihkan ke negara lain, salah satunya Indonesia. Bahkan Le Drian juga akan berkunjung ke Jepang, India, dan Vietnam.

“Perjalanan ini adalah tentang menegaskan kembali komitmen Prancis untuk Indo-Pasifik dan untuk mengintensifkan hubungan dengan Indonesia,” kata seorang sumber diplomatik Prancis, menjelang keberangkatan Le Drian ke Jakarta, seperti dikutip dari Reuters.

Kunci untuk mengembangkan hubungan itu, lanjut dia, adalah memperkuat kerja sama militer. Indonesia ingin meningkatkan kemampuan pertahanan, termasuk kemungkinan pembelian kapal selam, kapal perang, dan jet tempur, di tengah ketegangan dengan China soal Laut China Selatan.

Prancis dan Indonesia beberapa bulan terakhir menegosiasikan pengadaan 36 unit jet tempur Rafale. Letter of intent sudah diteken pada Juni, meski para pejabat belum yakin adanya kesepakatan sebelum akhir tahun terkait masalah dana.

“Prancis menggandakan hubungan Indo-Pasifik lain, termasuk dengan Indonesia, dengan tujuan arti untuk mengimbangi kehilangan Australia,” kata seorang diplomat Indo-Pasifik.

Bahkan Prancis membuat video berdurasi 2 menit mengumumkan perjalanan Le Drian ke Indonesia disertai penjelasan strategi Indo-Pasifik negara itu termasuk menyebut beberapa negara lain di kawasan, tanpa memasukkan Australia. [*inews]

 

 

Komentar

Berita Hangat Terbaru Lainya