ISRA’ MI’RAJ: PROSESI MENJEMPUT SALAT
Oleh: Dra. Anisatul Mardiah, M. Ag, Ph.D,
Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang
Pengantar
Peristiwa Isra’ Mi‘raj dalam tradisi Islam dipahami sebagai perjalanan luar biasa Rasulallah SAW dalam prosesi sakral menjemput salat secara langsung dari Allah SWT. Proses penerimaan perintah salat berbeda dengan ajaran-ajaran Islam lainnya yang melalui wahyu dan disampaikan kepada Rasulallah SAW di bumi. Kewajiban salat ditetapkan melalui pengalaman transendental yang melampaui ruang dan waktu. Hal ini menegaskan posisi salat sebagai inti relasi vertikal antara makhluk dan Khaliknya.
Secara teologis, Isra’ Mi‘raj menegaskan bahwa salat bukan beban normatif yang “diturunkan” secara sepihak, melainkan amanah Ilahi yang dijemput melalui perjalanan spiritual Rasulallah SAW. Dalam proses ini, Rasulallah SAW berperan sebagai representasi umat manusia yang “menghadap” Tuhan, sehingga salat memdapatkan legitimasi tertinggi sebagai ibadah yang langsung bersumber dari perjumpaan ilahiah.
Penetapan salat lima waktu—yang pada awalnya berjumlah lima puluh dan kemudian diringankan—juga mengandung makna bahwa salat merupakan ibadah dialogis, yang memperhatikan kapasitas manusia. Dengan demikian, salat tidak hanya bersifat perintah (taklif), tetapi juga wujud kasih sayang Ilahi (rahmah). Inilah sebabnya salat sering disebut sebagai mi‘raj al-mu’minin (mi‘raj-nya orang beriman), karena melalui salat setiap Muslim diberi akses simbolik untuk “naik” mendekat kepada Tuhan.
Isra’ Mi‘raj: Prosesi Menjemput Salat dalam Perspektif Teologis dan Sosiologis
Peristiwa Isra’ Mi‘raj memiliki posisi sentral dalam tradisi Islam karena di dalamnya ditetapkan kewajiban salat lima waktu. Berbeda dengan ajaran Islam lainnya yang disampaikan melalui wahyu secara gradual di bumi, salat ditetapkan melalui perjalanan transendental Rasulallah SAWyang melampaui batas ruang dan waktu. Keunikan ini menjadikan Isra’ Mi‘raj bukan sekadar peristiwa mukjizat, melainkan sebuah prosesi sakral penjemputan salat, yang mengandung makna teologis, simbolik, dan sosial yang mendalam.
Dalam konteks kehidupan modern yang ditandai oleh krisis makna, degradasi moral, dan meningkatnya ketidakpastian sosial, pemaknaan Isra’ Mi‘raj sebagai prosesi menjemput salat menjadi relevan untuk dikaji secara akademik. Tulisan ini mencoba menganalisis Isra’ Mi‘raj dan penetapan kewajiban salat dengan menempatkannya dalam dialog antara teologi Islam dan perspektif sosiologi agama. Tujuannya untuk menjelaskan bahwa salat bukan hanya kewajiban ritual, tetapi juga institusi religius yang membentuk etika dan keteraturan sosial.
Isra’ Mi‘raj sebagai Prosesi Sakral
Dari perspektif simbolik, prosesi Isra’ Mi‘rajmenempatkan salat sebagai jembatan kosmik antara langit dan bumi. Jika Isra’ Mi‘raj adalah perjalanan Rasulallah SAW ke hadirat Allah SWT, maka salat adalah miniatur perjalanan itu yang diulang setiap hari oleh umat Islam. Oleh karena itu, salat tidak hanya bermakna ritual formal, tetapi juga mekanisme spiritual untuk menjaga relasi manusia dengan Tuhannya di tengah kehidupan duniawi.
Secara teologis, Isra’ Mi‘raj dipahami sebagai perjalanan Rasulallah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra’), lalu naik ke Sidratul Muntaha (Mi‘raj). Dalam perjalanan inilah Rasulallah SAW menerima perintah salat secara langsung dari Allah SWT. Fakta bahwa salat “dijemput” melalui perjalanan sakral ini menegaskan kedudukannya sebagai inti relasi vertikal antara manusia dan Tuhan.
Konsep “menjemput salat” menunjukkan bahwa salat bukanlah perintah yang bersifat administratif atau legal-formal semata, melainkan amanah Ilahi yang disampaikan melalui perjumpaan langsung dengan Allah SWT. Dalam tradisi teologi Islam, hal ini menempatkan salat sebagai ibadah yang memiliki legitimasi tertinggi, karena berasal dari pengalaman spiritual Rasulallah SAW yang paling puncak. Oleh karena itu, salat sering disebut sebagai mi‘raj al-mu’minin, yakni sarana bagi setiap Muslim untuk mengalami kedekatan simbolik dengan Tuhan.
Dimensi Simbolik Isra’ Mi‘raj dan Salat
Dari perspektif sosiologi agama, Isra’ Mi‘raj dapat dibaca sebagai simbol kosmik yang menghubungkan dunia profan dan dunia sakral. Perjalanan Rasulallah SAW melintasi lapisan-lapisan langit merepresentasikan upaya manusia melampaui keterbatasan duniawi untuk mencari makna dan keteraturan transenden. Dalam kerangka ini, salat berfungsi sebagai miniatur dari Isra’ Mi‘raj yang diulang setiap hari dalam kehidupan umat Islam.
Clifford Geertz memandang agama sebagai sistem simbol yang membentuk cara manusia memahami realitas dan menata kehidupannya. Salat, sebagai simbol utama dalam Islam, tidak hanya mengekspresikan keimanan individual, tetapi juga membangun orientasi makna kolektif. Dengan melaksanakan salat, individu Muslim secara simbolik “naik” dari rutinitas profan menuju ruang sakral yang memberikan arah moral dan eksistensial.
Salat sebagai Institusi Normatif dan Etis
Penetapan salat melalui Isra’ Mi‘raj juga memiliki implikasi normatif yang kuat. Salat bukan hanya ritual individual, tetapi institusi religius yang menginternalisasi nilai etika seperti disiplin, tanggung jawab, dan kesadaran moral. Dalam perspektif Weberian, salat dapat dipahami sebagai mekanisme pembentukan tindakan sosial berorientasi nilai (wertrational action), di mana perilaku individu diarahkan oleh komitmen terhadap nilai religius, bukan semata pertimbangan instrumental.
Dalam konteks sosial, nilai-nilai yang diinternalisasi melalui salat—seperti kejujuran, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama—berkontribusi pada pembentukan etos sosial yang lebih luas. Dengan demikian, salat berfungsi sebagai fondasi etika yang menopang keteraturan sosial, terutama dalam situasi krisis moral yang sering menyertai kehidupan modern.
Relevansi Isra’ Mi‘raj dan Salat dalam Kehidupan Modern
Kehidupan modern ditandai oleh rasionalisasi, individualisme, dan fragmentasi makna. Dalam situasi ini, agama sering direduksi menjadi urusan privat yang terpisah dari ruang publik. Pemaknaan Isra’ Mi‘raj sebagai prosesi menjemput salat menantang reduksi tersebut dengan menegaskan bahwa salat memiliki implikasi sosial dan moral yang luas.
Salat menyediakan ritme kehidupan yang memungkinkan refleksi dan penataan ulang orientasi hidup di tengah tekanan modernitas. Salat berfungsi sebagai jangkar spiritual yang menghubungkan individu dengan nilai-nilai transenden, sekaligus sebagai mekanisme pembentuk kesadaran sosial. Dengan demikian, salat tidak hanya relevan dalam konteks ritual, tetapi juga sebagai respons etis terhadap krisis makna dan moral dalam kehidupan kontemporer.
Penutup
Memahami Isra’ Mi‘raj sebagai prosesi menjemput salat menegaskan bahwa salat merupakan fondasi utama kehidupan religius Islam, yang menggabungkan dimensi teologis, spiritual, dan eksistensial. Ia bukan sekadar kewajiban hukum, melainkan pengalaman sakral yang menghidupkan relasi antara manusia, Tuhan, dan makna hidup itu sendiri.
Isra’ Mi‘raj sebagai prosesi menjemput salat menegaskan kedudukan salat sebagai inti kehidupan religius Islam. Melalui perspektif teologis dan sosiologis, dapat dipahami bahwa salat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan institusi religius yang menghubungkan makna simbolik, norma etis, dan keteraturan sosial. Dalam konteks kehidupan modern yang sarat dengan krisis moral dan eksistensial, pemaknaan salat secara holistik menjadi penting agar agama tidak hanya hadir sebagai simbol keimanan personal, tetapi juga sebagai sumber nilai dan etika sosial yang hidup. @









