TEHERAN-IRAN, ExtraNews – Iran tidak berencana memberikan akses kepada Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) untuk mengakses fasilitas-fasilitas nuklirnya yang dibom oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel, ujar seorang diplomat senior Iran pada Rabu (24/6/2026), sembari menyatakan bahwa isu-isu semacam itu akan diselesaikan hanya dalam kerangka kesepakatan akhir potensial dengan Washington.
Dalam platform media sosial X, Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional Kazem Gharibabadi menyampaikan bahwa akses terhadap fasilitas dan bahan nuklir Iran “akan ditinjau dan diselesaikan semata-mata dalam kerangka kesepakatan akhir dan sebagai hasil dari tindakan praktis pihak lainnya untuk mencabut segala sanksi.”
Dia menuturkan tidak ada pertemuan yang digelar antara tim negosiasi Iran dan Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi di Swiss dalam beberapa hari terakhir, meski Grossi meminta pertemuan tersebut.
Pernyataan Gharibabadi itu dilontarkan setelah sebelumnya pada hari yang sama Grossi menuturkan bahwa IAEA akan melakukan inspeksi di Iran mengingat nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) perdamaian AS-Iran telah diteken baru-baru ini.
MoU yang ditandatangani pada 18 Juni tersebut menetapkan masa perundingan selama 60 hari, yang saat ini sudah berjalan, untuk mencapai kesepakatan akhir mengenai program nuklir Iran dan pencabutan sanksi. Putaran pertama perundingan itu telah digelar di Swiss pada Minggu (21/6) dan Senin (22/6).
Tiga fasilitas nuklir utama Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan dibom oleh AS dalam “perang 12 hari” pada Juni 2025. Lokasi-lokasi tersebut kembali menjadi pusat konflik yang meletus pada 28 Februari tahun ini, saat AS dan Israel melancarkan serangan terhadap target-target nuklir dan militer Iran. (xinhua)













