oleh

Ini dia! Jawaban Gaikindo Soal Bangun Pabrik Semikonduktor di Indonesia

HPN XLVII Dan HUT ke-75 PWI Sumsel Di Banyuasin

JAKARTA, ExtraNews – Persoalan kurangnya supply atau pasokan semikonduktor juga melanda pabrik otomotif di Indonesia, bahkan perihal ini ikut membuat pincang produksi industri otomotif Indonesia yang berujung tertundanya pengiriman unit mobil baru ke tangan konsumen. Namun mungkinkah Indonesia memiliki pabrik semikonduktor yang memang difokuskan untuk industri otomotif?

Rupanya hal tersebut bukan perihal mudah, karena komponen semikonduktor bukan hanya diperuntukkan untuk industri otomotif saja melainkan industri lainnya.

“Bangun pabrik semikonduktor? Pabrikan otomotif, mereka tidak punya pabrik semikonduktor, karena dunia semikonduktor itu dunia sendiri lagi (bukan hanya dunia otomotif). Karena semikonduktor itu lebih banyak pakai di elektronik (perusahaan teknologi), seperti Samsung, itu dia (Samsung) bisa mengusulkan (membuat pabrik semikonduktor), kalau mobil masih fokus di sini dulu (pulihkan produksi mobil),” ucap Ketua Umum Gaikindo, Yohannes Nangoi kepada detikOto, dilansir Jumat (11/6/2021).

Bagus DiBaca Juga:   Cegah Penyebaran Covid-19, Satuan Tugas TMMD Kodim Bojonegoro Lakukan Pendisiplinan Prokes

Tapi seberapa banyak sih industri otomotif membutuhkan komponen semikonduktor? “Data semikonduktor butuh berapa? Saya tidak punya datanya, cek ke asosiasi komponen coba,” kata Nangoi.

“Kami lagi bekerja keras untuk meningkatkan produksi, memang terjadi antrian tapi tidak sejelek yang bicarakan, kadang-kadang dealer suka bilang, mohon maaf ya. Waduh pak saya ada 50 unit yang antri, padahal cuma 10 unit. Tapi dikasih 15 unit ya mereka berterima kasih. Karena kalau dealer bilang 10 unit yang antre akan dikasih 5 unit saja. itu intinya ke sana,” Nangoi menambahkan.

Menurut Nangoi, banyak dealer yang melebih-lebihkan permintaan agar pasokan di setiap dealer cukup dan selalu ada.

Bagus DiBaca Juga:   MUI Gelar Ijtima Ulama Juli: Bahas soal Khilafah, Uang Krypto hingga Doa Lintas Agama

“Makanya itu kadang-kadang dibesar-besarkan di market, tapi kalau produksinya dinaikkan 2 kali lipat mereka akan menolak karena tidak bisa menjual, strategi itu biasa. Kalau saya fokus pada produksi normal dulu deh, jadi tenaga pabrik, tenaga pekerjanya, komponen, kami lagi maksimalkan dan terus kita perhatikan,” tutup Nangoi. [red/*]

 

Komentar

Berita Hangat Terbaru Lainya