oleh

Dewan Pendidikan Bahas dan Jajaki Kerja Sama Living Lab Smart Nusantara dengan PT Telkom

Kunjungan Dewan Pendidikan Sumsel di Graha Telkom Gunung Sahari, Kamis, 4 Desember 2020. Jakarta, Extranews — Dewan Pertimbangan Pendidikan Sumsel melakukan kunjungan kerja ke  Living Lab Smart City Nusantara PT Telkom dan Ke Kemendikbud. Pada hari pertama kunjungan, Kamis (3/12), Ketua Dewan Pendidikan Prof Zulkifli Dahlan disertai anggota  Prof M Sirozi, Yeni Roslaini,  Firdaus, Zainal Berlian. Rombongan didampingi dari Dinas Diknas Sumsel Iskandar. Di Living Lab Telkom, Dewan pendidikan diterima oleh Sri Suhartini,  Senior Account Manager PT Telkom dan Bangun Kuntoro,  Manager Sales PT Telkom. Acara berlangsung di Plaza Telkom Gunung Sahari Jakarta.

Di Living Lab Smart City Nusantara, Zulkifli dan rombongan diajak visit dan melihat praktik penggunaan aplikasi dan teknologi pembelajaran berbasis digital.

Manager  Teritorial Barat PT Telkom, David, yang mengcover wilayah kerja Sumatera Jabar dan Jateng, menjelaskan sudah menjadi komitmen Telkom dalam membantu daerah daerah yang membutuhkan konsep dan jaringan infrastruktur terkait dengan  Smart city. 

Zulkifli Dahlan, menjelaskan, salah satu tugas dan fungsi dewan pendidikan yaitu memberikan masukan terkait dengan persoalan pendidikan di Sumsel. Sebelum kunjungan kerja ke Jakarta, tim Dewan Pendidikan telah berkeliling ke 17 kota kabupaten di Sumsel. Tujuannya pemetaan berkaitan dengan konsep pembelajaran virtual dan permasalahan layanan mutu pendidikan secara keseluruhan. Pada bagian lain, M Sirozi menjelaskan, persoalan pendidikan berbasis digital pada dasarnya bagaimana memanfaatkan kemajuan teknologi untuk proses pembelajaran dan layanan mutu pendidikan. Selain konsep pembelajaran dan layanan pendidikan tidak kalah penting adalah infrastruktur dan manajerial dan kualitas SDM tenaga skill. 

Sirozi menyampaikan, Dewan Pendidikan ingin mengetahui terkait dengan layanan pendidikan terkait bidang layanan berbasis digital. 

“Ada tekad dan komitmen dari Pemprov agar lebih baik dalam pelayanan pendidikan, dan tentu saja perlu infrastruktur digital. Supaya sekolah bisa berinovasi,” ujar Sirozi.

Pertanyaannya infrastruktur yang terbatas maka perlu Infrastruktur digital yang dibutuhkan oleh sekolah. Tentu saja harus memiliki desain relialibel. Tata kelola pelayanan di sekolah berbasis digital. Faktanya, pembelajaran daring tapi konsepnya manual. Ini harus dipikirkan bahwa daring itu perlu didesain dengan pola yang bisa disesuaikan. Perlu diukur tingkat kemampuan dan kebutuhan di sekolah sekolah. Kebutuhan layanan pendidikan bukan hanya pembelajaran virtual juga untuk akademik misalnya perpustakaan digital. Menurut David, solusi dari Telkom sudah kerja sama dengan Kemendikbud berupa program Guru dan Tenaga Kependidikn (GTK) termasuk merdeka belajar yang secara rincia ada 11 program. Ada guru belajar, seri pendemi covid guru diberi pelajaran membuat konten secara daring dan memberikan pelajaran ke siswa. Program pembelajaran GTK. Di sistem informasi manajemen, dengan berbasis digital integrasi SSI SIM elearning, mekanisme manajement system, kelola materi pembelajaran, kelola kuis, kelola ujian online. GTK 6.000 sekolah yang mengikuti PPDB online, 2,7 juta jumlah guru. Paling lenting didukung oleh infrastruktur teknologi internet. Produk Pijar (platform Indonesia belajar) ada pijat sekolah dan pijar mahir. Pijat mengakomodir bukan hanya sistem pembelajaran tapi semua menyangkut ekosistem kebutuhan di sekolah. Model pembelajaran digital, absensi, aplikasi penilaian (semua reporting bisa tersimpan), modul pembelajaran digital, modul manajemen sekolah (informasi sekolah bayar SPP, yang disebut pijarsekolah.id. Fk

Komentar

Berita Hangat Terbaru Lainya