Pasang Iklan Murah Meriah

Batu Tergolek di Halaman Masjid, Bukti Nyata Melindungi Cagar Budaya

Batu Tergolek di Halaman Masjid, Bukti Nyata Melindungi Cagar Budaya
Anggota Kopi Merah Sabe memasang papan dan penunjuk arah di situs batu balai Dusun Tegur Wangi beberapa waktu lalu. Papan nama juga dipasang di lumpang batu di halaman Masjid Taqwa, Kelurahan Beringin Jaya, Kecamatan Pagaralam Utara

PAGARALAM-SUMSEL, ExtraNews – Sebuah batu tergolek dihalaman Masjid Taqwa, Kelurahan Beringin Jaya, Kecamatan Pagaralam Utara. Terletak dibawah rindangnya pohon sukun, diatas permukaan batu terdapat lobang. Inilah yang dikenal sebagai batu lumpang, salahsatu peninggalan dari zaman megalitikum.

Batu Tergolek di Halaman Masjid, Bukti Nyata Melindungi Cagar BudayaDidekat batu lumpang terdapat sebuah papan yang berisi keterangan mengenai nama batu tersebut. Dijelaskan pula bahwa batu lumpang merupakan situs megalit yang dilindungi Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Artinya situs ini tak boleh dirusak.

Papan nama di halaman Masjid Taqwa itu dibuat dan dipasang oleh anak-anak muda yang terhimpun dalam Komunitas Pecinta Megalit Sejarah Budaya Besemah (Kopi Merah Sabe). “Batu itu sering jadi tempat jemuran pakaian. Padahal itu kan situs yang dilindungi undang-undang,”ujar Refdinal, pembina Kopi Merah Sabe, Minggu (26/9/2021).

Refdinal juga menambahkan, kita berharap masyarakat menjadi tahu dan ikut menjaga peninggalan sejarah ini, “peranan papan nama seperti di halaman Masjid Taqwa itu juga semakin penting, karena saat ini masih ada masyarakat yang tak paham tentang cagar budaya. Bahkan keberadaan dan fungsi batu itu saja Refdinal bilang, masih ada yang tak tahu. Maka komunitas bergerak untuk memberikan pemahaman,”jelas Refdinal.

BACA JUGA INI:   "Diorama Sumatera Selatan Sebagai Memori Kolektif Daerah"

Itulah, lanjut Refdinal, sebabnya Kopi Merah Sabe juga memasang papan nama dan penunjuk arah. Lokasinya disitus batu balai di Dusun Tegur Wangi Lama Kelurahan Pagar Wangi Kecamatan Dempo Utara.

Menurut Refdinal, penunjuk arah ke arah situs masih minim. Akibatnya wisatawan jadi sukar mencapai lokasi. “Penunjuk arah dan papan nama ini untuk membantu wisatawan ataupun pengunjung untuk mencapai ke lokasi,”katanya.

Situs Batu Balai sendiri berisi relief atau ukiran di permukaan batu besar di tengah kebun kopi. Sekira 1 Km di belakang Dusun Tegur Wangi Lama. Tak jauh dari tepian Sungai Selangis. Maka tanpa ada penunjuk arah, wisatawan luar Pagaralam akan kesulitan datang ke sini atau bahkan bisa tersesat. Karenanya yang dilakukan Kopi Merah Sabe sudah tepat.

BACA JUGA INI:   Sejarah Hari Lahir Pancasila, Jangan Galat dengan Hari Kesaktian

Masih banyak situs-situs megalit di Pagaralam yang minim penunjuk arah dan papan nama. Situs-situs ini berdasarkan catatan Refdinal di antaranya adalah pundek berundak-undak dan arca kepala manusia di Dusun Cawang Baru. Lalu arca manusia di Dusun Cawang Lama. Relief manusia di dinding air terjun Luang Akin Muara Siban. Selanjutnya arca kepala manusia di Talang Ternak. Situs arca manusia di Dusun Danau Alai, serta batu betulis di Dusun Gunung Agung Lama Kelurahan Agung Lawangan.

Tambah Refdinal, minimnya penunjuk arah dan papan nama membuat wisatawan tidak tahu potensi wisata sejarah di daerah tersebut dan juga wisatawan akan sulit dan bingung menemukan lokasi tersebut. Karena itu komunitas Kopi Merah Sabe akan berupaya memasang papan nama dan penunjuk arah ke situs tersebut. “Rencananya kita akan memasang papan nama dan penunjuk arah ke situs batu betulis Agung Lawangan,”Tandasnya. [Reri]

 

BACA JUGA INI:   7 Destinasi Wisata Menarik di Banyuwangi yang Rugi Kalau Gak Kamu Dikunjungi