ISRAEL, ExtraNews – Israel mengalami pengeboman luar biasa yang belum pernah terjadi sebelumnya selama perang terbaru melawan Iran pada Februari hingga April 2026, demikian pengakuan Moshe Patel, direktur Organisasi Pertahanan Rudal, lembaga di bawah Kementerian Pertahanan (Kemhan) Israel.
Dalam pernyataan yang diterbitkan Kemhan Israel, Selasa (30/6/2026), Patel menyampaikan analisis tersebut setelah rampungnya serangkaian uji coba menyeluruh terhadap sistem pertahanan Iron Dome. Namun pernyataan tersebut tidak menyebutkan di mana atau kapan uji coba dilakukan.
Organisasi Pertahanan Rudal, bekerja sama dengan produsen senjata Rafael Advanced Defense Systems, menyelesaikan uji coba terbaru Iron Dome. Tujuannya untuk mengatasi berbagai ancaman serangan canggih. Uji coba tersebut sudah mengaplikasikan teknologi berdasarkan pelajaran yang dipetik dari serangan Iran baru-baru ini.
“Sepanjang perang… kami menghadapi kenyataan yang belum pernah terjadi sebelumnya, berupa pengeboman berkelanjutan, yang membutuhkan fleksibilitas operasional luar biasa serta dukungan lapangan segera, dalam kondisi yang sangat sulit,” kata Patel, seperti dikutip dari Anadolu, Rabu (1/7/2026).
Dia menambahkan, Iron Dome tetap menjadi pilar utama sistem pertahanan udara berlapis Israel. Sistem tersebut didesain untuk menangkis roket, senjata anti-tank, dan rudal balistik.
Meski Israel mengeklaim Iron Dome berhasil mencegat ribuan roket dan ancaman udara lainnya selama perang, berbagai media Israel dan internasional kerap melaporkan kegagalan sistem canggih tersebut dalam mencegat rudal dan drone.
Hasil penyelidikan militer Israel pada Februari 2025 mengungkap kegagalan serius Iron Dome selama jam-jam awal serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Hampir setengah dari sekitar 3.700 roket yang ditembakkan dalam 4 jam pertama gagal dicegat, sementara baterai pencegat habis dalam beberapa jam. (*)













