Diperkenankan Jurnalisme Gunakan AI, Hanya Dijadikan Tool dan Harus Jujur
Palembang, Extranews— Teknologi Artificial Intelligence (AI) diperkenankan digunakan dalam produk jurnalisme, namun hanya sebagai alat bantu. Wartawan tetap harus mengendalikan proses dan memastikan verifikasi, serta wajib mencantumkan disclaimer atau penafian jika AI digunakan.
Hal itu menjadi benang merah dalam Insight Talk “Literasi Media: Cerdas di Era Kecerdasan Artificial Intelligence Volume 3 yang digelar di Harper Hotel Palembang, Selasa (14/4), setelah sebelumnya dilaksanakan acara yang sama digelar di Aceh dan NTB.
Acara yang menyasar wartawan dan pengelola media ini dibuka oleh Direktur Ekosistem Media Komdigi, Farida Dewi Maharani. Hadir sebagai pembicara Rosarita Niken Widiastuti, Ketua Komisi Kemitraan Hubungan Antar Lembaga dan Infrastruktur Dewan Pers, serta Abdul Kohar, Direktur Pemberitaan Media Indonesia.
Menurut Farida Dewi Maharani, kegiatan ini merupakan respons atas perkembangan teknologi yang luar biasa, termasuk AI. Sebab, teknologi ini telah masuk ke ruang redaksi dan memengaruhi cara informasi diproduksi dan didistribusikan.
“AI membantu membuat narasi untuk memudahkan pekerjaan. Tapi tidak semuanya diserahkan ke AI. Pembuatan video dan pekerjaan lain memang jadi lebih cepat karena bisa memproduksi dengan halus,” ujar Dewi.
Meski demikian, Dewi menekankan pentingnya etika jurnalistik dalam memproduksi konten. Semahir apa pun menggunakan AI, standar etika dan nilai kemanusiaan harus tetap dikedepankan. “Peran manusia memegang kunci menilai kualitas produksi informasi. Kita ketahui penggunaan AI melampaui kondisi regulasi yang ada,” katanya.
Dewi juga mengingatkan, kecepatan yang ditawarkan AI berpotensi memicu bias, misinformasi, dan disinformasi. Karena itu, penting menyiapkan aturan dan pengembangan teknologi secara etis.
“Teknologi AI hanya tool. Hal yang memegang peran adalah manusia, karena manusia juga yang mengawasi dan memastikan etika serta penggunaan AI,” tegasnya.
AI, lanjut Dewi, adalah alat untuk mempercepat kerja. Namun redaksi yang memiliki nurani, verifikasi, dan empati tetap menjadi domain jurnalis dan konten kreator. “Adopsi teknologi yang bertanggung jawab dapat memperkuat riset dan produktivitas tanpa mengorbankan etika,” tambahnya.
Etika tersebut juga berlaku bagi konten kreator. Publik harus tahu mana konten yang dihasilkan AI dan mana yang merupakan karya jurnalis. “Jika AI menjadi kawan inovasi, maka etika dan integritas tetap harus menjadi patokan,” tutup Dewi. Firko








