alfaone 1
Berita  

Protokol di Persimpangan Jalan: Melayani Pimpinan di Tengah “Hujan” Politik, Oleh : Ariyati Windy, S.Ikom Mahasiswa Magister Administrasi Publik Institut Pahlawan 12

Protokol di Persimpangan Jalan: Melayani Pimpinan di Tengah “Hujan” Politik, 

Oleh : Ariyati Windy, S.Ikom

Mahasiswa Magister Administrasi Publik Institut Pahlawan 12
Lampu menyala. Kamera aktif. Pejabat duduk sesuai urutan. Kepala Daerah melangkah menuju podium tanpa hambatan. Acara tampak sempurna.
Pernahkah Anda membayangkan menjadi seseorang yang harus memastikan langkah kaki seorang pejabat tidak meleset, jadwalnya presisi hingga hitungan detik, namun di saat yang sama harus menjaga wajah netral ketika ruangan dipenuhi oleh kepentingan politik yang memanas?
Itulah keseharian para punggawa Protokol Sektor Publik. Di dunia mereka, manajemen kinerja bukan sekadar urusan administratif “sudah absen atau belum”. Ini adalah seni menyeimbangkan antara profesionalisme birokrasi dan realitas politik yang sering kali cair dan tak terduga.
1. Bukan Sekadar “Tukang Atur Acara”
Banyak yang salah kaprah menganggap kerja protokol hanya soal mengatur barisan kursi atau memegang mikrofon. Padahal, manajemen kinerja di sektor ini menuntut ketangkasan luar biasa.
Dalam sebuah studi tentang administrasi publik, sering ditekankan bahwa efektivitas organisasi sangat bergantung pada kemampuan personelnya dalam menerjemahkan visi pimpinan menjadi tindakan nyata (tata kelola yang tangkas). Bagi protokol, “tindakan nyata” berarti memastikan pimpinan tetap tampil prima dan terlindungi secara citra, tanpa melanggar aturan netralitas ASN.
2. Tantangan “Dua Kaki”: Profesional vs Politis
Di tahun-tahun politik seperti sekarang, tantangannya naik level. Pimpinan yang dilayani adalah pejabat publik yang juga merupakan aktor politik. Di sinilah letak kerumitannya. Meminjam pemikiran sosiolog Max Weber dalam karyanya Economy and Society (1922) tentang birokrasi, idealnya seorang abdi negara harus bekerja “sine ira et studio”—yang berarti bertindak tanpa kebencian dan tanpa gairah pribadi demi menjaga objektivitas.
 Sisi Profesional: Harus patuh pada Standar Operasional Prosedur (SOP) dan undang- undang.
 Sisi Politis: Harus peka terhadap dinamika lapangan. Siapa yang duduk di sebelah siapa, atau siapa yang diberi kesempatan bicara duluan, bisa menjadi sinyal politik yang fatal jika salah diatur.
3. Kasus Nyata: Dilema “Kursi Panas”
Bayangkan sebuah peresmian proyek negara yang tiba-tiba dihadiri tokoh partai besar tanpa jabatan resmi. Protokol berada di posisi sulit. Jika diletakkan di depan, ia berisiko menabrak aturan tata tempat yang secara kaku diatur dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010

tentang Keprotokolan. Jika diletakkan di belakang, pimpinan mungkin merasa canggung secara politis.
Protokol yang berkinerja tinggi tidak akan melanggar aturan, melainkan menggunakan teknik buffer seating—menyiapkan area terhormat namun tetap sesuai koridor hukum. Ini bukan sekadar teknis, tapi upaya mitigasi agar pimpinan tidak dituduh menyalahgunakan fasilitas negara untuk kepentingan golongan.
4. Mengukur Kinerja dengan “Indikator Rasa”
Bagaimana kita mengukur kinerja protokol? Apakah cukup dengan acara yang selesai tepat waktu? Ternyata tidak.
Konsep Balanced Scorecard dari Robert S. Kaplan dan David P. Norton (1996) menjelaskan bahwa kinerja organisasi harus dilihat dari berbagai sisi—bukan hanya hasil akhir, tetapi juga proses, pembelajaran, dan kepuasan para pemangku kepentingan.
Jika protokol gagal memitigasi risiko saat pimpinan berinteraksi dengan kelompok politik tertentu, yang taruhannya adalah kredibilitas institusi. Jadi, manajemen kinerja di sini sebenarnya adalah manajemen risiko reputasi.
Catatan Penting: Manajemen kinerja yang sehat harus tetap berpijak pada integritas. Seperti yang sering diingatkan dalam prinsip tata kelola pemerintahan yang baik, akuntabilitas tidak boleh dikorbankan demi kenyamanan sesaat sang pimpinan.
5. Tips Tetap “Waras” di Tengah Pusaran Kepentingan
Bagi para praktisi protokol, ada beberapa strategi agar kinerja tetap moncer meski tekanan politik tinggi:
 Pegang Teguh Aturan Main: Jadikan regulasi sebagai “perisai” saat ada permintaan yang melenceng dari koridor hukum.
 Komunikasi Adaptif: Belajarlah membaca situasi tanpa harus ikut “bermain”. Protokol adalah jembatan, bukan pemain catur.
 Evaluasi Berbasis Data: Jangan hanya mengandalkan pujian pimpinan. Gunakan data kepuasan stakeholder untuk menilai apakah pelayanan kita benar-benar berkualitas.
Denhardt dan Denhardt (2015) dalam konsep New Public Service menekankan bahwa aparatur publik harus mengutamakan kepentingan publik, bukan kepentingan politik jangka pendek. Prinsip ini menuntut keberanian untuk tetap berpegang pada aturan, meskipun tekanan datang dari berbagai arah.

Sebagaimana dijelaskan Weber (1978), kekuatan birokrasi modern terletak pada aturan yang konsisten dan aparatur yang profesional. Melayani pimpinan di lingkungan publik memang berat, apalagi jika kepentingan politik mulai masuk ke ruang-ruang rapat.

lion parcel