alfaone 1

Coal Trading dari Thailand Beli Batubara dari Sumsel

Nik Azman dan Muhlisin Aziz

Coal Trading dari Thailand

Beli Batubara dari Sumsel

Palembang, Extranews—- Salah satu perusahaan coal trading dari Thailand, Borneo Bara Energi (BBE) melakukan pembelian Batubara dari Sumsel. Sebanyak 7.500 ton dengan tujuan Pelabuhan Kohsichang Thailand.

Nik Azman,  Representative dari Thailand di Indonesia, Selasa (24/2), menuturkan sebagai perusahaan trading BBE mancari penjualan batubara termasuk di Sumsel.

Nik Azman, yang datang ke Palembang juga bersilatutahim dengan relasi bisnisnya yang dikenalnya di Palmbang adalah Muhlisin Aziz.

Didampingi Muhlisin Aziz, Nik Azman, menjelaskan, cakupan kerja perusahaan bidang coal trqding. Selain membeli batubara dari Sumsel juga dari Kalimantan. Borneo Bara Energi memiliki kantor Operaional di Samarinda, Kaltim.

Nik Azman dan Muhlisin Aziz

Menyinggung kondisi saat ini, menurutnya, perusahaan trading masih sangat dibutuhkan.

Hal ini dengan mempertimbangkan terutama untuk menjangkau customer yang sulit dijangkau oleh perusahaan tambang batubara Sumsel.

Dengan melalui perusahaan trading batubara juga dapat  meminimalisir resiko dari tambang batubara.

Khususnya peran dj Thailand menurutnya,

di Thailand trader batubara juga bertindak sebagai distributor ke pengguna akhir seperti industri tekstil, semen, pabrik. Dari perusahaan ini di Thailand  menggunakan tongkang dan truk sebagai alat distribusi.

Dampak bagi perekonoman di Sumsel, menunjukkan masih diminati perusahaan trading batubara sangat positif, terutama untuk pasar di Malaysia, Thailand dan kamboja, yang secara geografis dekat dengan Sumsel.

Dikutip dari id.tradingeconomic, harga batubara tetap di atas $115 per ton pada akhir Februari, mendekati level tertinggi dalam setahun, karena harapan permintaan yang kuat mengimbangi pergeseran global jangka panjang menuju sumber energi yang lebih bersih.

China, produsen dan konsumen batubara terbesar di dunia, mengoperasikan 78 GW kapasitas pembangkit listrik berbasis batubara baru pada tahun 2025, menandai penambahan tahunan tertinggi dalam satu dekade.

Ekspansi ini menegaskan penekanan Beijing pada keamanan energi dan stabilitas jaringan selama periode permintaan puncak, meskipun kapasitas pembangkit energi non-fosil telah melampaui kapasitas berbasis bahan bakar fosil untuk pertama kalinya. China mempertahankan armada pembangkit listrik batubara terbesar di dunia dan menyumbang sekitar 71% dari kapasitas batubara global yang saat ini sedang dikembangkan.

Di AS, Presiden Donald Trump telah mengambil langkah untuk mendukung sektor pembangkit listrik berbasis batubara yang sedang berjuang, mengalokasikan $175 juta dalam pendanaan federal untuk memodernisasi enam pabrik dan mengarahkan Departemen Pertahanan Amerika Serikat untuk memperoleh listrik dari fasilitas tambahan. Firko

lion parcel