Cuaca Panas di Sumsel, Warga Kepanasan Namun Diminta Tak Panik
Palembang, Extranews – Cuaca panas yang melanda Sumatera Selatan (Sumsel) beberapa hari terakhir membuat warga merasa tidak nyaman. Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menjelaskan bahwa saat ini memang puncak suhu maksimum di Sumsel.
Menurut Wandayantolis, Jumat (1/11), cuaca panas ini disebabkan oleh gerak semu matahari dan ketiadaan hujan selama beberapa hari. “Suhu akan terasa menyengat karena penyinaran matahari yang sampai permukaan tanah lebih tinggi karena ketiadaan tutupan awan ataupun hujan yang bisa menyerap panasnya,” ujar Wandayantolis.
Wandayantolis meminta masyarakat tidak perlu panik karena cuaca panas ini merupakan siklus yang selalu berulang setiap tahun. “Masyarakat tidak perlu panik karena ini siklus yang selalu berulang setiap tahun,” katanya.
Wandayantolis juga menyebutkan bahwa secara umum pada bulan November, suhu akan menurun karena posisi matahari menjauh ke Selatan dan mulai peningkatan curah hujan. Diharapkan dengan informasi ini, warga Sumsel dapat lebih siap menghadapi cuaca panas saat ini.
Pada bagian lain, Siswanto Kepala BMKG SMB 2, BMKG mengonfirmasi bahwa panas menyengat di Sumatera Selatan dalam seminggu terakhir, dengan suhu maksimum berkisar antara 32°C hingga 36°C, disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor meteorologis dan klimatologis.
Faktor-faktor utama tersebut adalah, Pertama, adanya Gerak Semu Matahari yang berada di selatan ekuator sehingga memaksimalkan penyinaran ke wilayah Sumsel;
Kedua, masuknya periode puncak suhu maksimum tahunan di akhir Oktober; dan ketiga, kondisi atmosfer kering yang diperkuat oleh Monsun Australia. Kurangnya tutupan awan menyebabkan radiasi matahari (sinar UV) tidak terhalang oleh tabir awan dan diterima secara maksimal.
Selain itu, adanya sirkulasi siklonik yang terpantau di perairan utara Indonesia juga turut memengaruhi pola aliran udara, cenderung menarik massa udara yang lebih kering ke wilayah selatan ekuator, sehingga lebih lanjut menghambat pertumbuhan awan di Sumatera Selatan.
Gabungan faktor-faktor ini membuat paparan sinar matahari terasa sangat maksimal dan menyengat.
BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi dehidrasi, mengurangi aktivitas luar ruangan yang terpapar langsung sinar matahari—terutama pada siang hari—serta waspada terhadap potensi perubahan cuaca mendadak.
BMKG memprediksi kondisi ini secara bertahap akan mereda di November 2025 ini. Firko









