ENDY Agustian adalah sosok pemuda Indonesia asal Kota Palembang, Sumatera Selatan yang sangat berfokus pada dunia Pendidikan. Fislosofi pendidikan dari Bapak Ki Hajar Dewantara yaitu “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” dijadikan sebagai pegangan dalam berproses di bidang Pendidikan.
Sekilas pengalaman pendidikan yang ditempuh Endy, menyelesaikan SDN 230 Palembang, SMPN 10 Palembang dan pendidikan SMAN 6 Palembang. Pendidikan
S1 di Jurusan Teknik Geodesi UGM, kemudian melanjutkan S2 Magister masih di UGM dengan prodi Perencanaan Kota dan Daerah, dan menyelesaikan S3 Ilmu Geografi masih di UGM.
Kecintaan anak dari pasangan Amiruddin dan Sahara pada dunia pendidikan sebanding dengan prestasi yang Ia capai yaitu mendapatkan penghargaan sebagai Duta Pendidikan Indonesia dari Ikatan Pemuda Prestasi Indonesia dan sebagai Pemuda Hebat Pelopor Pencerdasan Bangsa Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.
Filosopi pendidikan tersebut selalu mengiringi semangat sampai menyelesaikan pendidikan S3 dan mendapatkan gelar sebagai Doktor Ilmu Geografi pada bidang Perencanaan Wilayah dan Kota pada usia di bawah 30 tahun. “Bagi saya filosofi Bapak Pendidikan kita mempunyai kandungan makna yang sangat magis, jika kita dapat meresapi makna tersebut dengan baik maka nilai moral dan spirit sebagai pelaku Pendidikan akan dapat kita rasakan.” ujar Endy.
Filosofi pendidikan mengajarkan kita tentang memberi teladan, memberi bimbingan, dan memberi dorongan yang Endy aplikasikan pada berbagai macam kegiatan yang dilakukan. Selain sebagai seorang Dosen, Endy juga sebagai pendiri platform Indonesia Cerdas yang sedang berkembang di Kota Palembang dan Kota Denpasar. Platform tersebut berfokus pada pengajaran kepada anak-anak terkait pengembangan diri dan motivasi diri dalam meraih mimpi.
Endy mempunyai keinginan untuk dapat menginspirasi anak-anak melalui cerita pengalaman yang pernah Ia lalui ketika meraih penididkan dan menjadi seorang pemimpi. “Sebenarnya tujuan saya tetap konsisten bergerak di dunia Pendidikan ini, karena saya ingin menjadi sosok yang dapat mengispirasi orang-orang di luar sana untuk selalu semangat dalam menjalankan proses di dalam Pendidikan, baik itu secara formal maupun non formal.” ujar Endy.
Dokumen pribadi/Endy
Memutuskan menjadi seorang Dosen merupakan suatu wujud nyata yang Endy lakukan untuk memberi teladan, bimbingan, dan dorongan kepada anak bangsa. Ia menyakini bahwa jika kita mempunyai keyakinan tinggi dengan pilihan yang dipilih, maka semesta akan bersahabat untuk menjawab keyakinan tersebut. Menjadi seorang dosen secara tidak langsung mencetak karakter Endy untuk menjadi pembelajar seumur hidup.
Di sisi lainnya, Endy mengungkapkan, profesi ini memberikan kesempatan atau peluang yang luar biasa untuk Ia dapat membuat karya baik melalui penulisan dan pengabdian kepada masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat pada 6 buah karya buku yang sudah Ia terbitkan dan artikel-artikel ilmiah pada laman jurnal Internasional maupun Nasional seputar Perencanaan Wilayah dan Kota.
Dokumen pribadi/Endy
Sebagai agen atau pelaku Pendidikan, Ia sadar selama menjalankan proses telah diajarkan banyak hal terutama dalam memaknai arti hidup dan memanusiakan manusia. Pendidikan mengajarkan kita untuk lebih konseptual dalam berfikir dan menghargai antar selama ketika berinteraksi dan berinterelasi. “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” dapat dikatakan sebagai formulasi untuk bertindak di dalam kehidupan, bagaimana cara kita memberi teladan, bagaimana cara kita memberi bimbingan, dan bagaimana cara kita memberikan dorongan, ujar Endy yang juga sering menjadi Narasumber diberbagai kegiatan seputar Pendidikan. Rel/Firko