HUT Kemerdekaan RI ke 81 Tahun 2026
alfaone 1

Cuaca di Sumsel Ekstrem Waspadai Meningkatnya Titik Panas

Cuaca di Sumsel Ekstrem Waspadai Meningkatnya Titik Panas
Foto/ilustrasi: Musim Kemarau, sawah Kekeringan air

Palembang, Extranews — Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Dr Wandayantolis, MSi, menjelaskan, informasi iklim update akhir Juli 2026, seluruh wilayah Sumsel mengalami curah hujan kategori rendah dengan sifat hujan pada dasarian 1 Agustus 2026 diprediksi bawah normal. Kondisi demikian berpotensi meningkatkan titik panas (hotspot). Meskipun demikian, potensi terjadinya cuaca ekstrem di sebagian kecil wilayah tetap perlu diwaspadai.

Menurutnya, curah hujan pada dasarian III Juli 2026 di sebagian besar wilayah Sumatera Selatan berada pada kategori  rendah (50-150 mm).

Sementara itu,  sebagian kecil Muara Enim dan sebagian Musi Banyuasin mengalami hujan pada kategori *Menengah (50-150 mm).

Curah hujan dasarian tertinggi terukur pada pos hujan Keluang, Kec.Keluang, Kab. Musi Banyuasin sebesar 121.5 mm. Pada dasarian III Juli 2026 di wilayah Sumatera Selatan didominasi dengan sifat hujan  bawah normal.

Monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Sumatera Selatan mengalami HTH dengan kategori Pendek (6-10 hari) meski di beberapa wilayah masih mendapatkan hujan sampai dengan pemutakhiran data.

Meski begitu, di beberapa wilayah Sumatera Selatan juga telah mengalami HTH dengan kategori  Panjang (21-30 hari)yakni di sebagian kecil Lahat, sebagian kecil Muara Enim, sebagian kecil OKU, dan sebagian kecil Ogan Ilir. Sementara, untuk kategori *Sangat Panjang (31-60 hari) berada di sebagian kecil Muara Enim, sebagian Ogan Ilir, seluruh OKU Timur, dan sebagian OKU.

HTH terpanjang 40 hari terjadi di Pos Hujan Muara Kuang, Kec. Muara Kuang, Kab. Ogan Ilir.

Hasil monitoring pada Dasarian II Juli 2026 menunjukkan indeks IOD dasarian (indeks bulanan) sebesar +0.197 (-0.387). Sementara itu, nilai SSTA di region Nino3.4 secara dasarian (ENSO bulanan) adalah sebesar +2.26 (+1.56), yang menunjukkan El Nino event intensitas kuat.

Angin massa udara di sebagian besar Indonesia didominasi angin timuran. Belokan angin terlihat di wilayah sekitar ekuator. Pusat tekanan rendah terlihat di barat Sumatera. Belokan angin diprediksi masih terjadi di sekitar wilayah ekuator pada dasarian berikutnya.

Analisis pada Dasarian II Juli 2026 menunjukkan MJO aktif di fase 8 (Western Hemsiphere & Africa). MJO diprediksi masih aktif hingga Dasarian III Juli 2026 di fase 8. Sementara itu, tutupan awan dominan terjadi di wilayah Sumatera bagian utara. Dibandingkan klimatologisnya, tutupan awan secara umum lebih lebih sedikit, kecuali di Sumatera bagian utara.

Sebagian besar wilayah Sumatera Selatan diprediksi berpeluang lebih dari 80% terjadi curah hujan Rendah (0-50 mm) kecuali di sebagian Musi Rawas Utara bagian barat, sebagian Musi Rawas bagian tengah, sebagian kecil Lubuk Linggau bagian timur, sebagian kecil Empat Lawang bagian utara, dan sebagian kecil Lahat bagian selatan berpeluang hingga 30% terjadi curah hujan *Menengah (51-150 mm).

Wandayantolis, mengimbau  wilayah Sumatera Selatan pada Dasarian I Agustus 2026 diprediksi mengalami curah hujan kategori Rendah dengan dominasi sifat hujan Bawah Normal, sementara sebagian wilayah bagian barat diprediksi mengalami sifat hujan Normal (Musi Rawas Utara, Pagar Alam, dan Lahat). Penurunan curah hujan terjadi di sebagian besar wilayah Sumatera Selatan sehingga berpotensi meningkatkan jumlah titik panas (hotspot).

Potensi terjadinya cuaca ekstrem akibat dari penurunan curah hujan perlu diwaspadai. Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca dan iklim terkini dari BMKG, serta meningkatkan kewaspadaan, khususnya di daerah rawan bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, angin kencang, utamanya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Firko

lion parcel