Cacatan Redaksi
Mengukur Capaian Program CSR KKKS di SKK Migas Sumbagsel, Kontrak Sosial Baru Migas Sumsel: Saat CSR Berhenti Jadi Amal dan Mulai Menciptakan Efek Berganda

PALEMBANG | EXTRANEWS —- Selama puluhan tahun, relasi KKKS dan masyarakat Ring 1 dibangun di atas satu kata yaitu kompensasi. Karena narasinya selalu dalam Mind set, karena ada sumur minyak, ada jaringan pipa, ada truk sembako. Inilah akibatnya transaksional dan sifatnya jangka pendek.
“Model bantuan seperti itu sudah habis, tidak lagi konsepnya seperti itu,” kata Dr. Widya, pengamat kebijakan publik alumni Unsri. “Warga sekarang melek. Mereka bertanya setelah minyak habis, kami mau kerja apa?”
Pertanyaan itu kini dijawab SKK Migas Sumbagsel dengan cara berbeda. CSR tidak lagi dihitung dari berapa banyak bantuan yang dibagi. Tapi dari berapa banyak warga yang bisa berdiri sendiri.
Menurut Syafei Syafri, Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagsel, inilah yang disebut dengan kontrak sosial baru.
“Program pemberdayaan KKKS hari ini menguatkan fondasi sosial produksi migas. Kalau Ring 1 berdaya, gangguan operasional turun, TKDN naik, dan produksi jadi lebih aman. CSR sudah jadi tulang punggung strategi SKK Migas Sumbagsel,” ujarnya.
Hasilnya terlihat di empat episentrum pemberdayaan dari Hulu ke Hilir Sumsel-Jambi. CAR hadir dalam bentuk pemberdayaan, kemandirian, keberlanjutan dan berdampak.
di PALI: Dari Asap Pembakaran Jerami ke “Ngebul” di Dapur
Tumpukan jerami menjadi pertanda musim panen di Desa Pengabuan, Kabupaten PALI. Selama bertahun-tahun, 4 ton jerami/hektare itu dibakar. Asapnya mencemari udara, nutrisinya hilang.
Sarbeni, petani Kelompok Tani Barokah, resah. “Mau diolah, tapi tidak tahu caranya,” katanya.
2025 menjadi titik balik. Lewat pemetaan sosial, Pertamina EP Adera Field PHR Zona 4 masuk dengan program PERMATA: Pertanian Mandiri Desa Tangguh.
Bukan sembako yang dikirim. Tapi alat, pelatihan, dan ilmu usaha. Jerami diolah jadi briket dan wadah makanan pengganti plastik. Petani dibimbing pengemasan, pencatatan, hingga pemasaran.
Efeknya langsung terasa. 60 petani dari Kelompok Tani Barokah, KWT Selaras Alam, dan Taruna Tani kini pendapatannya naik dari Rp1,7 juta/bulan jadi Rp3,9 juta/bulan. Hampir 2,3 kali lipat dari UMP PALI.
“Jerami yang dulu cuma jadi sampah ternyata bisa bawa berkah. Ngebulnya enggak lagi di sawah, alhamdullilah ngebulnya di dapur soalnya pemasukan nambah,” ucap Sarbeni.
Dampak lingkungannya ganda: potensi penurunan emisi 18 ton CO2/tahun karena berhenti membakar jerami. Plus mengurangi sampah plastik. Data KLHK 2024 mencatat PALI hasilkan 38.730 ton sampah/tahun, 8.404 ton di antaranya plastik. Wadah jerami jadi solusi.
“Desa Pengabuan bukti perubahan besar tumbuh dari inisiatif warga yang sederhana,” kata Iwan Ridwan Faizal, Manager CID PHR. “Kami ingin perusahaan jadi pendorong masyarakat mandiri melalui pemberdayaan berkelanjutan.”
IDi OKU: Mengail Harapan dari Tepian Embung
Di Desa Makartitama, OKU, ada embung 2.000 m² yang mangkrak. Erliyanto, 48, melihat peluang: “Embung seharusnya tak hanya mengairi sawah, tapi juga memberi nilai ekonomi.”
Gagasannya bertemu PPM PHE Ogan Komering Field PHR Zona 4 pada 2024. Perusahaan tak cuma kasih jaring dan bibit. Tapi juga pelatihan budidaya lele, patin, nila, plus pakan mandiri dari maggot untuk tekan biaya.
Embung disulap jadi kolam wisata pemancingan. Untuk tekan biaya listrik Rp850 ribu – Rp1,5 juta/bulan, dipasang PLTS 6,6 kWp + baterai 10 kWh.
Hasilnya: kelompok Erliyanto kini kantongi Rp25 juta/bulan dari ikan + wisata. Sebagian disetor ke desa. Gotong royong jalan.
Program ini exit 2026 dengan target kemandirian penuh.
“Kami percaya potensi desa yang dikelola bersama masyarakat dapat tumbuh jadi sumber penghidupan baru,” kata Iwan Ridwan Faizal, Manager CID PHR Zona 4.
RING 1: Mencetak SDM Unggul Lewat Beasiswa Hulu Migas
CSR juga masuk ruang kelas. SKK Migas + PHR Zona 4 buka Beasiswa Hulu Migas TA 2026/2027 untuk putra-putri Ring 1: Prabumulih, Limau, Adera, Pendopo, Ramba, Ogan Komering.
Pendaftaran 16 Juni – 13 Juli 2026. Fasilitas: biaya kuliah 6 semester, akomodasi 3 tahun di Politeknik Akamigas Palembang. Prodi: Analisis Lab Migas, Pengolahan Migas, Eksplorasi Produksi, Tambang Batubara, Manajemen Keuangan.
Sejak 2014 sudah 91 orang lulus beasiswa. Salah satunya Allisyah Pebriani dari Patih Galung, Prabumulih, angkatan 2025/2026.
“Lebih dari bantuan pendidikan, beasiswa ini bentuk kepercayaan yang membuat saya termotivasi mengejar cita-cita lebih tinggi,” ujarnya.
“Pendidikan fondasi masa depan. Kami buka peluang luas agar putra-putri daerah siap kerja,” kata Iwan Ridwan Faizal.
Pola dan skema mirip di JAMBI MERANG: UMKM Naik Kelas dari Dapur ke Pasar
Di Jambi, fokusnya UMKM perempuan. Pertamina EP Jambi Field gelar studi banding ke Padang 15-16 Mei 2026 untuk Kelompok KUALITAS = 6 ibu rumah tangga pengolah kue.
Masalahnya: produk umum, musiman, tanpa ciri khas. Solusinya: diversifikasi singkong ala Sumatera Barat. Peserta belajar langsung ke UMKM Ummi Aufa Hakim bikin keripik balado sanjai dan rengginang singkong.
Dua produk baru, produksi berkala, standar mutu naik.
Di Musi Banyuasin, KWT Embun Pagi dilatih olah tepung mocaf jadi tepung bumbu, stik keju, stik bawang, kue kering kelapa. Mocaf = bebas gluten, sumber energi, alternatif pangan lokal.
“Kami dorong UMKM perempuan mandiri. Harapannya lahir produk khas, kompetitif, dan pendapatan keluarga naik,” kata Iwan Ridwan Faizal, Manager CID Regional 1.
Dari kisah empat bidang, menunjukkan satu benang merah. CSR migas Sumsel sudah pindah haluan. Dari bagi sembako, bagaimana maku membangun kapasitas. Dari sifatnya transaksional → ke efek berganda dan dari yang hitungannya amal, lebih jauh ke investasi sosial.
Dari angka-angka itu menunjukkan pendapatan naik 129% di Pengabuan. Rp25 juta/bulan di Makartitama. 91 SDM migas baru. Emisi turun 18 ton CO2.
Seperti kata Syafei Syafri, inilah fondasi sosial yang membuat produksi migas di Sumbagsel makin kokoh. Karena sumur paling dalam yang harus dijaga, bukan hanya di bawah tanah. Tapi sumur harapan di atasnya.
Laporan: Tim Redaksi | Sumber: SKK Migas Sumbagsel, PHR Zona 4, PHE Jambi Merang | Penulis: Firdaus









