Sawit, Lapangan Kerja dan Pengangguran

1241
ILLUSTRASI , Perkebunan kelapa sawit

Oleh : Shazkia Martha Yolanda , Mahasiswi Universitas Sriwijaya, Fakultas Pertanian Jurusan Agribisnis

SELAMA ini kita berada ditengah pesimisme terhadap keunggulan bangsa di hadapan bangsa-bangsa lain, padahal Indonesia sendiri memiliki potensi unggulan yang dapat dibanggakan yaitu kelapa sawit. Namun saat ini banyak isu sosial, ekonomi dan lingkungan yang menyebar kemasyarakat tentang negatifnya industry sawit Indonesia.

Kita dengar dampak negatif dari kelapa sawit yang membuat banyak orang memilih menjadi pengusaha perkebunan non kelapa sawit dan banyak yang mengatakan bahwa industri sawit tidak berpengaruh dalam menurunkan pengangguran khususnya pengangguran di pedesaan. Padahal seharusnya menjadi peluang utama yang harus dikembangkan dalam memanfaatkan industri unggulan di Indonesia. Isu-isu semacam ini akan menyesatkan dan merugikan industri sawit di Indonesia.

Saat ini masyarakat millennials lebih tertarik ke sektor properti dan investasi keuangan, padahal peluang di usaha sawit juga menjanjikan. Untuk menjadi preneursawit  sangat mudah.  Mereka yang belum memiliki pengalaman dalam usaha sawit dapat berkonsultasi dengan perusahaan konsultan perkebunan kelapa sawit yang siap membantu para generasi muda.

Anak muda sangat dibutuhkan dalam sektor sawit karena masih kaya akan inovasi, kreativitas serta unggul dalam menguasai jaringan tegnologi. Kelapa sawit membutuhkan pikiran-pikiran yang out of box anak muda dalam menciptakan perubahan baru bagi sawit Indonesia. Generasi muda lebih lues mengimplementasikan tegnologi yang yang mereka kuasai.

Atasi Pengangguran

Perkembangan perkebunan kelapa sawit baik swasta, BUMN maupun UKM berpeluang menciptakan kesempatan kerja baru di pedesaan. Berdasarkan data kementrian pertanian (2015), jumlah karyawan yang bekerja pada perusahaan kelapa sawit meningkat dari 718 ribu orang (2000) menjadi 3,4 juta orang (2016). Dengan demikian jumlah tenaga kerja yang teserap secara langsung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun yakni 2,1 juta orang pada tahun 2000 meningkat menjadi seitar 8,2 juta orang pada tahun 2016, yang menunujukkan bahwa industri kelapa sawit ini padat karya sehingga dapat menyerap banyak tenaga kerja.

Diperkirakan tenaga kerja pedesaan yang terserap pada perkebunan kelapa sawit masih akan meningkat degan makin intensifnya dan makin luasnya perkebunan kelapa sawit. Kesempatan kerja juga tercipta di luar perkebunan kelapa sawit akibat efek tak langsung dan efek induksi konsumsi dari pertumbuhan perkebunan kelapa sawit. Dan kini sektor-sektor pedesaan yang meningkat penyerapan tenaga kerjanya akibat peningkatan produksi minyak sawit antara lain jasa pertanian, perdagangan, restoran, hotel dan lain-lain.

Industri sawit tidak hanya padat kerja (labor intensive) tetapi juga akomodatif terhadap keragaman mutu/skill tenaga kerja pedesaan. Secara umum, struktur pendidikan di pedesaan sebagian besar merupakan tenaga kerja yang berpendidikan sekolah dasar ke bawah. Sekitar 49 persen usia kerja poduktif di kawasan pedesaan berpendidikan SD ke bawah dan 49 persen berpendidikan SLTP sampai SLTA dan hanya 2 persen yang berpendidikan diploma/sarjana (BPS, 2002). Komposisi rata-rata yang terserap di perkebunan kelapa sawit menurut PASPI (2014), Sekitar 51 persen berpendidikan Sekolah Dasar ke bawah, 16 persen berpendidikan SLTP, 30 persen berpendidikan SLTA dan 4 persen yang berpendidikan diploma/sarjana yang sangat mirip dengan komposisi kerja yang ada di pedesaan.

Untuk Mengurangi pengangguran khususnya di pedesaan perlu dikembangkan sektor-sektor ekonomi yang lebih banyak menyerap tenaga kerja sesuai dengan karakteristik/latar belakang tenaga kerja pedesaan. Dengan komposisi rata-rata pendidikan tenaga kerja kelapa sawit dengan komposisi tenaga kerja di pedesaan, perkebunan kelapa sawit secara umum lebih akomodatif terhadap latar belakang tenaga kerja yang tersedia di kawasan pedesaan. Isu- isu yang beredar tentang negatifnya sawit dalam kehidupan seharusnya dapat kita gunakan sebagai acuan untuk menjadikan keunggulan yang kita miliki ini berdampak positif bagi kehidupan semua orang , khususnya yang selama ini belum merasakan kesejahteraan.  Untuk mewujudkan kesejahteraan dibutuhkan peranan dari semua elemen untuk saling bersinergi dalam berinovasi terutama prospek dan masa depan sawit kita. ***

 

 

LEAVE A REPLY