Covid Tak Pengaruhi Produksi PTBA, Malahan Raup Laba Rp1,3 T

61

Covid Tak Pengaruhi Produksi PTBA, Malahan Raup Laba Rp1,3 T 

Jakarta, Extranews — PT Bukit Asam Tbk (PTBA) terus mencetak kinerja positif di semester I-2020 meski terimbas pandemi Covid-19 serta menurunnya harga batu bara dunia. Apollonius Andwie C, Sekretaris Perusahaan, dalam release yang diterima Extranews, menjelaskan, Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 1,3 triliun pada semester pertama 2020. Sedangkan dari sisi pendapatan, PTBA membukukan sebesar Rp 9 triliun hingga pertengahan tahun ini.

Beban pokok penjualan PTBA hingga paruh pertama 2020 menurun 8% dibanding periode yang sama tahun lalu, dari Rp 6,9 triliun menjadi Rp 6,4 triliun. Aset perusahaan per Juni 2020 tercatat masih kuat berada di angka Rp 26,9 triliun, dengan komposisi kas dan setara kas sebesar Rp 8,6 triliun atau 32% dari total aset.

Kinerja PTBA selama semester I-2020 cukup terdampak oleh pandemi Covid-19 yang menyebabkan penurunan konsumsi energi akibat diberlakukannya lockdown di beberapa negara tujuan ekspor seperti China dan India. Begitu juga dengan kondisi di dalam negeri yang menjadi pasar mayoritas PTBA. Turunnya konsumsi listrik di wilayah besar Indonesia seperti DKI Jakarta, Banten, Jawa dan Bali juga berdampak pada penyerapan batu bara domestik. Apollonius, menjelaskan, harga batu bara yang terus merosot selama tahun ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi perseroan. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), harga batu bara acuan (HBA) pada semester I-2020 ini merosot sekitar 20% dari US$ 65,93 per ton pada bulan Januari 2020 menjadi US$ 52,98 per ton pada bulan Juni 2020.

Strategi Efisiensi

Efisiensi merupakan salah satu strategi PTBA untuk menjaga dan mencatatkan kinerja positif di tengah volatilitas harga dan berkurangnya permintaan pasokan batu bara.

Beberapa strategi efisiensi yang telah dilakukan PTBA pada semester pertama 2020 adalah terus melakukan upaya penurunan biaya usaha dan biaya pokok produksi melalui penerapan berbagai optimasi biaya penambangan seperti pemangkasan jarak angkut dan penurunan stripping ratio.

Kinerja Operasional Target 2020

PTBA melakukan penyesuaian angka produksi batu bara di tahun 2020 setelah mempertimbangkan kondisi pasar global di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, dari target awal 30,3 juta ton menjadi 25,1 juta ton.

Progress Proyek Pengembangan Gasifikasi Batu Bara

PTBA berkomitmen menjalankan dan mengembangkan usaha hilirisasi batu bara, yaitu Coal to DME, bersama dengan mitra strategis (Pertamina sebagai off-taker, dan investor pemilik teknologi gasifikasi batu bara), yang telah menandatangani perjanjian kerjasama pada tahun 2019 kemudian di tahun 2020 dilanjutkan dengan tahap rancangan enjiniring lebih detil untuk persiapan pembangunan pabrik Coal to Chemicals (DME) termasuk mempersiapkan hal terkait pra-konstruksi pembangunan pabrik. Pabrik ini ditargetkan mulai berproduksi komersial pada tahun 2025 dengan konsumsi batu bara sekitar 6 juta ton per tahun selama minimal 20 tahun, untuk menghasilkan 1,4 juta ton DME per tahun-nya.Proyek DME PTBA akan dikembangkan di Tanjung Enim provinsi Sumatra Selatan, dimana DME adalah substitusi dari LPG yang saat ini sebagian besar masih diimpor.

PLTU Mulut Tambang Sumsel-8

PLTU Sumsel-8 berkapasitas 2×620 MW merupakan proyek strategis PTBA dengan nilai mencapai US$ 1,68 miliar. PLTU ini merupakan bagian dari proyek 35 ribu MW dan dibangun oleh PTBA melalui PT Huadian Bukit Asam Power (PT HBAP) sebagai Independent Power Producer (IPP). PT HBAP merupakan konsorsium antara PTBA dengan China Huadian Hongkong Company Ltd. Dari sisi produksi, PTBA mampu menghasilkan 12 juta ton hingga Juni 2020 diiringi dengan kinerja angkutan batu bara yang juga menunjukkan performa positif. Selama semester pertama tahun ini, kapasitas angkutan batu bara tercatat mencapai 11,7 juta ton. Menurut Appolonius, masih terjaganya kinerja operasional perusahaan hingga semester I-2020 tak lain merupakan hasil dari penerapan operational excellence yang berkelanjutan dan perluasan pasar yang menjadi strategi perusahaan dalam menjalankan bisnis di tahun ini. Progres pembangunan proyek PLTU yang nantinya membutuhkan 5,4 juta ton batu bara dalam setahun ini telah mencapai pencapaian pembangunan sebesar 50%. Pembangkit listrik ini diharapkan bisa beroperasi penuh secara komersial pada kuartal pertama 2022. PLTS Bandara Soekarno-Hatta dengan AP II PTBA juga melakukan sinergi dengan PT Angkasa Pura II (AP II) dalam membangun dan mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Bandar Udara Soekarno-Hatta. PLTS kerjasama PTBA dan AP II tersebut berupa 720 solar panel system dengan photovoltaics berkapasitas maksimal 241 kilowatt-peak (kWp) dan terpasang di Gedung Airport Operation Control Center (AOCC).PLTS di Gedung AOCC ini dibangun dan dikelola oleh PTBA yang juga menggandeng anak usaha PT LEN Industri yakni PT Surya Energi Indotama.Operasional PLTS akan beroperasi penuh pada 1 Oktober 2020, dimana PTBA bekerjasama dengan AP II siap membangun PLTS di sejumlah bandara-bandara lainnya yang dikelola AP II.

Proyek Angkutan Batu Bara

PTBA bekerjasama dengan PT Kereta Api Indonesia mengembangkan proyek angkutan batu bara jalur kereta api dengan kapasitas 72 juta ton/tahun pada tahun 2025, termasuk jalur baru yang terdiri dari:Tanjung Enim – Arah Utara:Dengan kapasitas angkut 20 juta ton/tahun, beserta fasilitas dermaga baru Kramasan yang direncanakan akan beroperasi pada tahun 2024 ; disamping itu kapasitas angkut 7 juta ton per tahun telah siap dioperasikan pada Dermaga Kertapati sejak Triwulan I-2020.Tanjung Enim – Arah Selatan: Tarahan 1, pengembangan kapasitas jalur eksisting menjadi 25 juta ton/tahun pada akhir tahun 2020.Tarahan 2, dengan kapasitas angkut 20 juta ton/tahun dan direncanakan akan beroperasi pada tahun 2025. Pengembangan Kapasitas Angkutan Batu Bara dengan Pelindo II PTBA menandatangani Head of Agreement (HoA/Perjanjian Induk) dengan PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) untuk pengembangan kapasitas angkutan batu bara dan/atau komoditas lainnya melalui sungai dan pelabuhan di Sumatra Selatan. Kerjasama pengembangan angkutan batu bara ini dilakukan untuk menyukseskan tujuan pembangunan koridor ekonomi Sumatra Selatan sebagai lumbung energi nasional. Rel/fk

  

LEAVE A REPLY