Wagub Sumsel: Perempuan Benteng Cegah Radikalisme dan Terorisme

95

Wagub Sumsel: Perempuan Benteng Cegah Radikalisme dan Terorisme

Palembang, Extranews — Wakil Gubernur Sumsel Mawardi Yahya mengingatkan posisi perempuan sebagai benteng pencegahan radikalisme dan terorisme sangat penting dan strategis. Posisi perempuan sering dimanfaatkan oleh kelompok tertentu dalam melakukan tindakan radikalisme dan terorisme.
Hal itu disampaikan oleh Wagub dalam pembukaan acara Seminar “Pelibatan Perempuan Agen Perdamaian” dalam pencegahan radikalisme dan terorisme melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumsel Bidang Perempuan dan Anak, di Hotel Beston, Rabu (12/8).
Dengan kegiatan ini, ujar Wagub, perempuan tetap harus waspada dengan berbagai iming-iming dan dengan kegiatan agar perempuan menjadi agen atau pelopor dalam mencegah aksi radikalisme baik itu sebagai pelaku maupun sebagai korban. Perempuan yang juga kaum ibu-ibu yang sehari hari dapat mempengaruhi keluarga. Oleh karena itu jangan sampai perempuan justru tidak sadar ketika sudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain dalam berperan mencegah aksi radikalisme.
Seminar diikuti lebih kurang 100 peserta dari kelompok organisasi perempuan dan komunitas akar rumput perempuan di Sumsel.
Direktur Pencegahan BNPT yang diwakili oleh Kasubdit Teknologi Informasi AKBP Astuti Idris, S.Sos, yang juga menjadi narasumber dalam seminar, menjelaskan, BNPT
mendorong kalangan perempuan untuk menjadi agen perdamaian.
Keterlibatan perempuan mempunyai peran strategis karena menjadi tumpuan pendidikan anak di keluarga maupun melalui komunitas perkumpulan perempuan. BNPT mendorong kalangan perempuan untuk aktif sebagai agen perdamaian di dunia nyata maupun di dunia maya sehubungan dengan tren radikalisasi yang menyasar kaum perempuan dan anak-anak.
Astuti menjelaskan, kalangan perempuan hendaknya secara aktif memberikan pencerahan dan pendidikan baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat secara luas.
“Keterlibatan perempuan mempunyai peran strategis karena menjadi tumpuan pendidikan anak di keluarga maupun melalui komunitas perkumpulan perempuan,” kata Astuti.
Menurut Astuti, kelompok teroris menyebarkan propaganda dan narasi bermuatan sentimen dan kebencian berbasis perbedaan agama sebagai bagian dari upaya meradikalisasi masyarakat.
Menurut Astuti, kelompok teroris juga mengimpor konflik di negara lain sebagai alasan untuk perjuangan. Penderitaan yang terjadi di Timur Tengah seperti Suriah dan Irak dijadikan propaganda untuk mengajak dan merekrut anggota di dalam negeri yang tidak mengerti peta konflik yang sebenarnya.
Astuti berharap perempuan menjadi bagian penting dalam menangkal narasi-narasi tersebut, bukan justru menjadi korban narasi kekerasan dan teror.
Apalagi sebaran narasi konflik radikalisme saat ini tidak hanya terjadi secara offline, tetapi yang lebih mengkhawatirkan narasi radikalisme yang bertebaran di dunia maya.Selama ini, kata dia, perempuan yang memiliki sikap lemah, lembut dan halus mampu mencegah paham-paham yang menyesatkan,termasuk radikalisme dan terorisme.
Namun, mereka prihatin di tengah sikap kelembutan itu dimanfaatkan menjadi pelaku tindakan radikalisme dan terorisme.
Ketua FKPT Sumsel Periansyah menjelaskan, kearifan lokal salah satu cara mencegah potensi radikalisme. Nilai-nilai kearifan lokal dapat menjadi alat untuk memberikan pemahaman terhadap pencegahan radikalisme dan terorisme.
Menurut Peri, para peserta kegiatan seminar ini yang pesertanya kaum perempuan dengan latar belakang profesi dapat memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat untuk pencegahan radikalisme.
Selain itu juga kaum perempuan dapat terlindungi dari paham radikalisme dan terorisme karena rentan dari perekrutan. “Kami minta kaum perempuan harus gigih untuk mencegah paham radikalisme dan terorisme,” ujarnya.
Sementara itu, Kabid Perempuan dan Anak, Fitriana S Sos MSi menjelaskan, peran perempuan daalam keluarga terutama dalam mendidik anak. Potensi pemanfaatan perempuan ini, maka perempuan sebagai aktor penting dalam membangun ketahanan keluarga untuk mencegah aksi radikalisme. Terutama dalam membentengi anak anak dan keluarga. Selanjutnya, perempuan menjadi agan sebagai kontra radikalisme agar dan dapat menjadi agen perdamaian. Karena dengan keluarga yang kuat dapat mencegah aksi redikalisme. Fk

LEAVE A REPLY